Gembar-gembor Pertumbuhan Ekonomi, Daya Beli Kelas Menengah Ternyata Melemah

12 Mei 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat. Di balik pertumbuhan yang terlihat tinggi, tekanan terhadap kelas menengah masih berlangsung dan mulai mengubah pola konsumsi warga.

Permata Institute for Economic Research menilai pertumbuhan ekonomi awal tahun lebih banyak ditopang belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadhan-Lebaran, bukan karena penguatan daya beli masyarakat secara menyeluruh.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal I perlu dibaca secara hati-hati karena terdapat efek basis rendah dan dorongan konsumsi musiman selama Ramadhan dan Lebaran.

“Pertumbuhan ekonomi kita masih lebih bersifat fiscal driven, bukan private driven,” kata Faisal dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I Tahun 2026, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, belanja pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan pada awal tahun. Government expenditure bahkan tumbuh hingga 21,81 persen secara tahunan.

Namun, di sisi lain, tekanan terhadap kelas menengah masih terlihat. Permata menilai daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya, terutama pada kelompok menengah bawah.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pemerintah perlu memberi perhatian serius terhadap penurunan kelas menengah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau kita melihat kondisinya dalam lima tahun terakhir, kelas menengah masih menunjukkan tren penurunan,” ujar Josua.

Ia mengatakan, kondisi tersebut juga tercermin dari pasar tenaga kerja yang masih didominasi sektor informal. Di saat bersamaan, masyarakat mulai mengubah pola konsumsi akibat tekanan ekonomi.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya pembelian mobil bekas dibandingkan kendaraan baru. Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi mengatakan, masyarakat kelas menengah kini cenderung menunda pembelian barang tahan lama.

“Segmen menengah bawah dan entry level mengalami tekanan daya beli,” kata Adjie.

Menurut dia, masyarakat sebenarnya masih membeli kendaraan, tetapi beralih ke mobil bekas karena harga lebih terjangkau. Kondisi itu juga tercermin dari meningkatnya pembiayaan multifinance kendaraan bekas.

Sementara itu, kelompok menengah atas justru mulai beralih membeli kendaraan listrik. “Pembeli kendaraan listrik umumnya sudah memiliki kendaraan konvensional sebelumnya,” ujar Adjie.

Permata juga menyoroti perlambatan sektor manufaktur yang mulai tertekan kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global. Data PMI manufaktur Indonesia pada April bahkan mulai masuk zona kontraksi.

Selain itu, tekanan global akibat konflik Timur Tengah, pelemahan rupiah, dan kenaikan harga energi dinilai berpotensi semakin menekan daya beli masyarakat pada semester II tahun ini.

Meski demikian, Permata masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada pada kisaran 5,1 hingga 5,3 persen dengan inflasi tetap terjaga di bawah 3 persen selama harga BBM subsidi tidak dinaikkan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 dinilai belum sepenuhnya ditopang aktivitas sektor swasta. Permata Institute for Economic Research menilai laju ekonomi saat ini masih sangat bergantung pada belanja pemerintah atau fiscal driven.

Faisal juga mengatakan, pertumbuhan tinggi pada awal tahun lebih banyak dipengaruhi percepatan belanja negara serta faktor musiman Ramadhan dan Lebaran.

“GDP growth memang tinggi, tetapi tantangannya ke depan semakin besar karena pertumbuhan ekonomi kita masih lebih bersifat fiscal driven, bukan private driven,” kata Faisal.

Menurut dia, pengeluaran pemerintah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal I. Government expenditure tercatat tumbuh hingga 21,81 persen secara tahunan, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Belanja pemerintah tersebut terutama terkait berbagai program prioritas, termasuk pembangunan sarana pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengadaan kendaraan, hingga percepatan proyek infrastruktur.

Namun, Permata mengingatkan pola pertumbuhan seperti itu tidak bisa berlangsung terus-menerus karena ruang fiskal pemerintah terbatas.

Faisal mengatakan, pemerintah saat ini menghadapi dua beban sekaligus. Di satu sisi, APBN harus mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain juga menjadi bantalan menghadapi tekanan global akibat konflik Timur Tengah, harga minyak, dan pelemahan rupiah.

“Strategi mendorong ekonomi melalui belanja fiskal besar tidak dapat dilakukan terus-menerus,” ujar Faisal.

Permata menilai tantangan terbesar pemerintah ke depan adalah menarik investasi swasta agar pertumbuhan ekonomi lebih sehat dan berkelanjutan.*