Menag Nasaruddin: Tidak Semua Hadiah Itu Gratifikasi

12 Mei 2026
 Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar

 Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar

RIAU1.COM - Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa tidak semua hadiah dapat dikategorikan sebagai gratifikasi. Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinnekaan Lintas Agama di Lapangan Gereja Katedral Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Dalam sambutannya, Menag menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang menerima pemberian seekor kijang dari seorang pemilik kemah di padang pasir. Menurut dia, kisah itu mengandung pelajaran penting tentang ketulusan dalam memberi hadiah.

“Ini pembelajaran Bapak Ibu, kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih,”ujar Menag yang dimuat Republika.co.id.

Ia menuturkan, saat itu Nabi Muhammad SAW membantu seekor kijang betina yang ingin menyusui anak-anaknya. Setelah kembali, pemilik kijang dengan tulus mempersilakan Nabi mengambil hewan tersebut sebagai hadiah. Namun Nabi justru melepaskan kijang itu agar bisa kembali membesarkan anak-anaknya di alam bebas.

Menurut Menag, sikap Nabi tersebut menunjukkan kasih sayang terhadap makhluk hidup sekaligus penghormatan terhadap pemberian orang lain. Ia menilai, seorang pemimpin yang baik juga harus menghargai hadiah yang diberikan dengan ketulusan.

"Nabi sendiri nenteng kijangnya itu, bukan sahabat. Itu caranya orang seorang tokoh yang baik menghargai pemberian orang, dia nggak minta ajudannya, asistennya,”kata dia.

Dalam sambutannya, Nasaruddin juga mengajak masyarakat mengembangkan konsep ekoteologi dan “kurikulum cinta” yang kini tengah digalakkan Kementerian Agama. Program tersebut, kata dia, bertujuan menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan, hewan, tumbuhan, dan sesama manusia.

“Selama ini hanya menjadikannya sebagai objek. Saya mengimbau lembaga pendidikan manapun juga, mari kita kembangkan ekoteologi dan kurikulum cinta. Mari kita menjadi contoh dalam dunia internasional bahwa cinta adalah jalan penyelesaian yang terbaik di atas semua problem yang ada,”ujar dia.

Nasaruddin juga mengajak seluruh masyarakat menjaga alam dan menyayangi seluruh makhluk hidup. “Mari kita menyayangi binatang, mari kita menyayangi burung, dan kalau kita menyayangi semua, langit pun akan sayang terhadap kita,”kata dia.

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini juga menyinggung simbol toleransi yang kini menjadi kebanggaan Indonesia, yakni Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta.

Nasaruddin mengungkapkan, gagasan pembangunan terowongan tersebut lahir dari percakapannya dengan Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo. Hingga akhirnya ia pun melapor ke Presiden Joko Widodo waktu itu.

“Yang kita akan bangun ini bukan terowongan Bapak Presiden, yang kita akan bangun ini adalah ikon, simbol toleransi," ujar Nasaruddin menceritakan saat melapor kepada Presiden Jokowi waktu itu. 

Ia menambahkan, terowongan itu kini menjadi perhatian dunia dan selalu dikunjungi tamu-tamu negara yang datang ke Indonesia, termasuk mendiang Paus Fransiskus. Ia juga berharap Paus Leo XIV dapat berkunjung ke Jakarta dalam waktu mendatang.*