Warga Prancis Tetap Demo Meski Gaji Rp 54 Juta Per Bulan

20 Oktober 2026
Demo Warga Prancis

Demo Warga Prancis

RIAU1.COM - Demo di Prancis pada Sabtu (17/10/2026) berujung kerusuhan dan penjarahan di sejumlah kota setelah warga turun ke jalan untuk memprotes mahalnya biaya hidup, persoalan pendidikan, dan kebijakan pemerintah.

Di balik gejolak tersebut, muncul persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat, yakni pendapatan yang dinilai belum cukup mengimbangi berbagai kebutuhan hidup.

Berdasarkan data Institut Statistik dan Studi Ekonomi Nasional Prancis (INSEE) seperti yang dimuat Beritasatu.com, rata-rata gaji bersih pekerja sektor swasta di Prancis pada 2024 mencapai 2.733 euro per bulan.

Jika dikonversi menggunakan kurs Rp 20.000 per euro, nilainya setara dengan Rp 54.660.000 atau sekitar Rp 54,7 juta per bulan. Angka tersebut merupakan gaji setelah dipotong iuran sosial, tetapi belum termasuk pajak penghasilan.

Adapun rata-rata gaji kotor pekerja sektor swasta tercatat sebesar 3.602 euro per bulan atau sekitar Rp 72 juta. Nilai ini masih merupakan pendapatan sebelum dikurangi iuran sosial dan pajak penghasilan.

Nominal tersebut terlihat besar jika dibandingkan dengan pendapatan pekerja di Indonesia. Namun, besarnya gaji dalam konversi rupiah tidak serta-merta menggambarkan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup di negara asalnya.

Biaya tempat tinggal, energi, transportasi, makanan, serta pajak dan iuran wajib ikut menentukan daya beli masyarakat. Persoalan biaya hidup inilah yang turut melatarbelakangi demo Prancis pada Sabtu (17/10/2026).

Meski sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, aksi di sejumlah kota berkembang menjadi bentrokan, perusakan, pembakaran, dan penjarahan.

Kerusuhan tersebut kemudian memicu kritik terhadap pemerintah dan kesiapan aparat keamanan dalam menangani massa.

Data INSEE yang dipublikasikan pada Oktober 2025 mencatat rata-rata gaji pekerja sektor swasta Prancis pada 2024 sebesar 3.602 euro per bulan sebelum potongan iuran sosial. Setelah iuran sosial dikurangi, pendapatan rata-ratanya menjadi 2.733 euro per bulan, tetapi belum termasuk pajak penghasilan.

Dengan kurs Rp 20.000 per euro, gaji kotor tersebut setara dengan Rp 72 juta per bulan. Adapun gaji setelah iuran sosial mencapai Rp 54,7 juta per bulan.

INSEE juga mencatat median gaji pekerja sektor swasta sebesar 2.190 euro per bulan setelah iuran sosial. Nilainya mencapai Rp 43,8 juta per bulan. Median merupakan nilai tengah dalam distribusi pendapatan.

Artinya, separuh pekerja memperoleh gaji di bawah angka tersebut dan separuh lainnya memperoleh gaji di atasnya. Perbedaan rata-rata dan median menunjukkan bahwa gaji kelompok berpendapatan tinggi turut memengaruhi nilai rata-rata nasional.

Oleh karena itu, angka rata-rata Rp 54,7 juta per bulan tidak bisa dianggap sebagai jumlah yang diterima setiap pekerja di Prancis. Data tersebut menggunakan ukuran ekuivalen waktu kerja penuh atau équivalent temps plein (EQTP).

Ukuran ini menyesuaikan pendapatan berdasarkan volume kerja yang setara dengan pekerjaan penuh waktu. Dengan demikian, angka tersebut tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh penduduk Prancis, termasuk pekerja paruh waktu dan mereka yang tidak bekerja.

INSEE juga mencatat perbedaan pendapatan berdasarkan kategori pekerjaan. Pada 2024, gaji bersih rata-rata kelompok profesional dan manajerial mencapai 4.629 euro per bulan, sedangkan kelompok pekerja administrasi dan layanan memperoleh rata-rata 1.941 euro.

Rentang ini memperlihatkan bahwa posisi dan jenis pekerjaan berpengaruh besar terhadap pendapatan.

Perbedaan Gaji Berdasarkan Kategori Pekerjaan di Prancis
Jabatan, keterampilan, dan tanggung jawab pekerjaan menjadi sejumlah faktor yang membedakan pendapatan pekerja di Prancis. Data INSEE yang dirangkum EP Advisory mencatat rata-rata gaji bulanan setelah iuran sosial pada 2024 sebagai berikut.

Profesional dan manajerial
Kelompok profesional dan manajerial atau cadres memperoleh rata-rata 4.629 euro per bulan. Nilainya setara dengan Rp 92,6 juta. Kategori ini mencakup pekerja pada posisi profesional dan manajerial yang umumnya memiliki tanggung jawab lebih besar atau membutuhkan kualifikasi tertentu. Meski rata-ratanya tinggi, pendapatan setiap pekerja tetap bergantung pada jabatan, pengalaman, industri, dan perusahaan tempatnya bekerja.

Profesi menengah
Pekerja dalam kategori profesi menengah memperoleh rata-rata 2.633 euro per bulan setelah iuran sosial. Nilai tersebut sekitar Rp 52,7 juta. Kategori profesi menengah mencakup beragam pekerjaan yang berada di antara kelompok manajerial dan pekerjaan administratif atau manual. Perbedaan tanggung jawab serta kualifikasi membuat pendapatan kelompok ini tidak sama dengan kategori lainnya.

Pekerja manual
Kelompok pekerja manual atau ouvriers mencatat rata-rata gaji sebesar 2.051 euro per bulan setelah iuran sosial atau sekitar Rp 41 juta. Pendapatan kelompok ini tetap bervariasi menurut jenis pekerjaan, sektor industri, pengalaman, dan jam kerja. Angka rata-rata tersebut tidak berarti setiap pekerja manual menerima gaji dengan nominal yang sama.

Pekerja administrasi dan layanan
Pekerja administrasi dan layanan atau employés memperoleh rata-rata 1.941 euro per bulan setelah iuran sosial setara dengan Rp 38,8 juta. Dibandingkan kelompok profesional dan manajerial, rata-rata pendapatan kategori ini lebih rendah.

Perbedaan tersebut memperlihatkan besarnya gaji di Prancis tidak dapat dilepaskan dari struktur pekerjaan dan posisi seseorang di pasar tenaga kerja.

Seluruh angka berdasarkan kategori pekerjaan tersebut merupakan rata-rata bulanan setelah iuran sosial, tetapi sebelum pajak penghasilan. Nilainya juga bukan jaminan setiap pekerja dalam kategori terkait memperoleh pendapatan sebesar angka rata-rata tersebut.

Selain gaji rata-rata, Prancis memiliki ketentuan upah minimum nasional yang disebut salaire minimum interprofessionnel de coissance (SMIC). Kebijakan ini menetapkan batas minimum upah bagi pekerja yang tercakup dalam ketentuan tersebut.

Berdasarkan informasi resmi pemerintah Prancis, SMIC pada 1 Januari 2026 ditetapkan sebesar 12,02 euro per jam atau 1.823,03 euro per bulan untuk jam kerja 35 jam per minggu. Nominal tersebut setara dengan Rp 240.400 per jam atau sekitar Rp 36,5 juta per bulan.

Mulai 1 Juni 2026, SMIC naik menjadi 12,31 euro per jam atau 1.867,02 euro per bulan untuk jam kerja 35 jam per minggu. Nilai tersebut setara dengan Rp 246.200 per jam atau sekitar Rp 37,3 juta per bulan.

Kedua nominal bulanan itu merupakan upah kotor sebelum potongan. Oleh karena itu, jumlah yang diterima pekerja setelah iuran sosial dan pajak dapat berbeda dari angka tersebut.

Kenaikan SMIC pada Juni 2026 dilakukan melalui mekanisme penyesuaian yang berkaitan dengan inflasi. Pemerintah Prancis menyebut kenaikan harga konsumen telah memicu ketentuan penyesuaian otomatis upah minimum.

Meski demikian, upah minimum tidak sama dengan gaji rata-rata pekerja. SMIC merupakan batas minimum sesuai ketentuan, sedangkan rata-rata gaji menggambarkan pendapatan pekerja dalam kelompok yang dihitung oleh INSEE.

Keberadaan upah minimum juga tidak otomatis membuat seluruh pekerja mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan mudah. Daya beli tetap dipengaruhi oleh harga barang dan jasa, biaya tempat tinggal, kebutuhan keluarga, serta besarnya potongan dari pendapatan.

Demo Prancis pada Sabtu (17/10/2026) tidak hanya berkaitan dengan besarnya gaji. Demonstrasi tersebut juga dipicu keresahan terhadap biaya hidup, kondisi layanan pendidikan, dan kebijakan pemerintah yang dinilai belum menjawab tekanan ekonomi masyarakat.

Dikutip dari Business Insider, menyebut tingkat kemiskinan Prancis mencapai 15,4% pada 2024, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1996. Angka tersebut setara dengan sekitar 9,8 juta orang.

Laporan yang sama menyebut harga energi meningkat lebih dari 60% sejak 2015 hingga pertengahan 2026. Harga listrik naik sekitar 43%, sedangkan harga bahan bakar turut mengalami tekanan.

Pada 2025, sebanyak 28,8% rumah tangga dilaporkan tidak mampu menutup pengeluaran tak terduga tanpa bantuan dari pihak lain. Lebih dari 41% rumah tangga juga dilaporkan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Data tersebut memberi gambaran persoalan daya beli tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga biaya yang harus dibayarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski demikian, angka kemiskinan, biaya energi, dan tekanan keuangan rumah tangga tersebut tidak berarti seluruh warga Prancis mengalami kondisi yang sama. Dampak kenaikan harga berbeda menurut pendapatan, jumlah anggota keluarga, lokasi tempat tinggal, dan jenis pengeluaran.

Keresahan ekonomi menjadi salah satu latar belakang mobilisasi massa pada Sabtu (17/10/2026). Sejumlah demonstran juga menyuarakan persoalan pendidikan dan tuntutan perbaikan layanan publik.

Ketika aksi berlangsung, sebagian besar peserta mengikuti demonstrasi secara damai, tetapi kelompok lain terlibat dalam bentrokan, pembakaran, perusakan fasilitas umum, dan penjarahan toko di sejumlah kota.

Kerusuhan tersebut memicu kritik terhadap kesiapan aparat keamanan. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengakui polisi meremehkan skala demonstrasi dan menyatakan aparat kehilangan kendali di beberapa wilayah. Ia mengajukan pengunduran diri kepada Presiden Emmanuel Macron, tetapi permohonan itu ditolak.*