Ikut Program Vokasi Nonmigas PHR, Lisna Buktikan Perempuan Juga Bisa Jadi Teknisi AC

4 September 2026
Lisna, salah seorang peserta Program Vokasi Nonmigas PHR menerima bantuan peralatan alat service AC. Foto: Istimewa.

Lisna, salah seorang peserta Program Vokasi Nonmigas PHR menerima bantuan peralatan alat service AC. Foto: Istimewa.

RIAU1.COM -Masa depan sempat terasa begitu gelap bagi Almaida Romi, pemuda 19 tahun asal Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Setelah menamatkan pendidikan di pondok pesantren pada tahun ini, Romi sempat diliputi kebingungan.

Keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus pupus karena keterbatasan biaya. Sementara itu, untuk mencari pekerjaan pun ia belum percaya diri karena belum memiliki keterampilan khusus.

Hari-hari Romi pun berlalu tanpa aktivitas berarti. Ia menganggur dan terus dibayangi ketidakpastian mengenai masa depannya.

Kondisi ekonomi keluarga semakin membuat Romi gelisah. Sang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga mengalami sakit setelah kecelakaan sepeda motor beberapa tahun lalu. Di tengah kondisi tersebut, Romi menyimpan harapan untuk bisa membantu menopang perekonomian keluarganya.

"Setelah tamat sekolah, saya sempat bingung. Mau kuliah tidak ada biaya, mau kerja belum punya keterampilan. Beruntung, saya dapat informasi pelatihan ini dari media sosial. Begitu dinyatakan lulus seleksi, rasanya seperti diberi jalan terang," ujar Romi.

Harapan itu mulai menemukan jalannya ketika Romi melihat unggahan media sosial mengenai Program Vokasi Nonmigas yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Kampar.

Tanpa banyak pertimbangan, Romi memberanikan diri mendaftar. Ia mengikuti sejumlah tahapan seleksi hingga akhirnya dinyatakan lolos sebagai peserta Pelatihan Teknisi AC.

Sejak mengikuti pelatihan, kepercayaan diri Romi perlahan tumbuh. Ia tidak hanya mendapatkan pembelajaran teori, tetapi juga menjalani praktik perbaikan dan perawatan AC secara intensif.
Bekal tersebut semakin lengkap setelah Romi mengikuti uji kompetensi dan memperoleh sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Tak berhenti pada ilmu dan sertifikasi, PHR juga memberikan paket peralatan teknisi AC kepada para peserta. Bagi Romi, peralatan tersebut menjadi modal penting untuk mulai menapaki masa depan. Bahkan, ia berencana memanfaatkan keterampilan dan peralatan yang dimilikinya untuk membuka usaha servis AC secara mandiri.

"Peralatan ini sangat membantu. Saya ingin memanfaatkannya untuk bekerja dan kalau memungkinkan membuka usaha sendiri sehingga bisa membantu ekonomi keluarga," katanya.

Cerita inspiratif lainnya datang dari Lisna Sudensari (20). Berbeda dari Romi, Lisna justru melihat dunia teknisi AC sebagai peluang untuk membuktikan bahwa profesi tersebut tidak mengenal batasan gender.

Di tengah dunia teknisi pendingin yang masih didominasi laki-laki, Lisna menjalani pelatihan selama sebulan di BLK Bengkalis dengan penuh percaya diri. Berbagai aktivitas teknis menjadi bagian dari kesehariannya, mulai dari naik turun tangga, mengoperasikan mesin steam bertekanan tinggi untuk membersihkan AC, hingga mengukur arus listrik menggunakan tang ampere. Alih-alih merasa canggung, Lisna justru menikmati setiap proses pelatihan.

"Naik turun tangga itu hal biasa. Justru di tengah sedikitnya perempuan yang menjadi teknisi AC, ini adalah peluang karier yang besar. Perempuan menjadi teknisi AC itu keren!" tutur Lisna.

Setelah mengantongi sertifikat kompetensi BNSP yang diakui secara nasional, Lisna berencana terlebih dahulu meniti karier di dunia kerja formal. Pengalaman di lapangan akan menjadi bekal penting sebelum suatu hari mewujudkan cita-citanya memiliki usaha servis AC sendiri.

Kisah Romi dan Lisna merupakan bagian dari dampak Program Vokasi Nonmigas yang diinisiasi PHR Zona Rokan. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas teknis sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya warga di desa-desa Ring 1 wilayah operasional perusahaan.

Sebelumnya, Program Vokasi Nonmigas PHR telah diinisiasi pada 2025 di satu kabupaten dengan 19 peserta. Pada tahun ini, program tersebut diperluas hingga menjangkau empat kabupaten, yakni Rokan Hulu, Kampar, Siak, dan Bengkalis.

Sebanyak 31 peserta terpilih mengikuti rangkaian pembekalan secara intensif. Tahapan dimulai dari proses seleksi bersama BLK di masing-masing kabupaten, pelatihan dasar, praktik perbaikan dan perawatan AC, hingga uji kompetensi BNSP.

Sertifikasi tersebut menjadi modal penting bagi para peserta untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja sekaligus membuka peluang menciptakan lapangan kerja baru.
Melalui program Community Involvement and Development (CID), PHR tidak hanya menyalurkan energi untuk negeri melalui produksi minyak dan gas bumi, tetapi juga berupaya menghadirkan energi baru bagi kehidupan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Riau Roni Rakhmat mengapresiasi program tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada SKK Migas dan PHR atas inisiatif menyelenggarakan pelatihan vokasi teknisi AC yang dinilai mampu memberikan keterampilan sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.

"Kegiatan seperti inilah yang sangat kami butuhkan karena tidak hanya memberikan pelatihan. Tetapi juga secara langsung membuka peluang lapangan kerja bagi putra-putri Riau," ucap Roni.

Ia berharap para peserta tidak berhenti setelah menyelesaikan pelatihan. Dengan keterampilan, peralatan, dan sertifikasi yang telah dimiliki, para peserta diharapkan mampu mandiri dan bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

"Ilmu, peralatan, hingga sertifikasi kompetensi resmi kini sudah di tangan Anda. Saat ini, status Anda telah setara dengan para teknisi terlatih berkat sertifikasi. Tinggal bagaimana kemauan dan eksekusi di lapangan. Jadi kerugian besar jika fasilitas dan keterampilan yang sudah ada saat ini tidak dimanfaatkan secara maksimal," pesannya.

Program Pelatihan Vokasi Nonmigas ditutup melalui kegiatan gelar wicara atau talkshow di Pekanbaru, Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan perspektif teknisi AC, dunia industri, pemerintah, dan PHR sebagai penyelenggara program.

Melalui gelar wicara itu, para peserta mendapatkan gambaran mengenai perjalanan setelah pelatihan, kebutuhan kompetensi di dunia kerja, strategi mengakses peluang kerja dan usaha, serta langkah untuk mengubah keterampilan yang telah diperoleh menjadi peluang dan penghasilan.
Bagi Romi, pelatihan tersebut bukan sekadar program peningkatan keterampilan.

Pelatihan itu menjadi titik balik setelah sempat diliputi ketidakpastian. Kini, ia memiliki keterampilan, sertifikasi, dan peralatan yang dapat digunakan untuk menjemput masa depan sekaligus mewujudkan harapan sederhana yaitu membantu keluarganya bangkit dari kesulitan ekonomi.