Anak Harimau Sumatera Masuk Kandang Jebak di Pelalawan

13 Maret 2026
Anak Harimau Sumatera

Anak Harimau Sumatera

RIAU1.COM - Seekor anak harimau Sumatera berjenis kelamin betina diamankan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama aparat dan masyarakat setelah beberapa kali dilaporkan memangsa ternak warga di wilayah Tanjung Pulai, Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan berdasarkan laporan warga, pada 25 Februari 2026 seekor harimau dilaporkan memburu kambing milik warga hingga mendekati teras rumah masyarakat di kawasan Tanjung Pulai.

Untuk mencegah terjadinya konflik, tim mitigasi langsung diturunkan dengan memasang kandang jebak (box trap). Namun hingga 3 Maret 2026, satwa tersebut belum berhasil diamankan.

Pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, salah seorang warga dikejutkan saat melihat kambing yang berada di dalam kandang ditemukan mati dimangsa, tidak jauh dari Simpang Tiga jalan menuju Desa Pulau Muda.

“Lokasi kemunculan harimau ini tak jauh dari Desa Pulau Muda, yang dalam beberapa bulan terakhir sering dilaporkan menjadi titik kemunculan satwa tersebut,” kata Ujang.

Khawatir seluruh ternak habis dimangsa, pada Selasa (10/3) siang masyarakat berinisiatif memasang kandang jebak di lokasi kejadian dengan memanfaatkan sisa ternak yang dimangsa sebagai umpan.

“Sekitar pukul 21.00 WIB, harimau tersebut terpantau telah masuk ke dalam kandang jebak dan langsung diamankan,” ujar Ujang.

Keesokan harinya, Rabu (11/3), tim dokter hewan BBKSDA Riau mengevakuasi harimau tersebut untuk dilakukan pemeriksaan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, anak harimau betina tersebut diperkirakan berusia kurang dari satu tahun. Kondisi kesehatannya secara umum baik, tidak ditemukan luka pada tubuhnya, serta menunjukkan perilaku normal.

“Secara fisik anak harimau tersebut terlihat memiliki kondisi tubuh yang relatif kurus, diduga karena kekurangan makanan,” kata Ujang.

Saat ini anak harimau tersebut ditempatkan di pusat penyelamatan satwa milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo untuk dilakukan pemantauan lebih lanjut serta pemulihan kondisi kesehatannya.

“Kami mempertimbangkan kemungkinan pelepasliaran kembali ke habitat alaminya,” ujar Ujang.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada serta tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan keselamatan diri maupun satwa liar yang dilindungi.

Ujang turut mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam upaya mitigasi konflik satwa liar tersebut, mulai dari TNI, Polri, pihak perusahaan pemegang izin usaha, hingga masyarakat setempat.

“Jika menemukan tanda-tanda keberadaan harimau Sumatera di sekitar permukiman, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada petugas atau menghubungi call center BBKSDA Riau agar dapat segera dilakukan penanganan yang tepat,” pesan Ujang.*