Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho. Foto: Istimewa.
RIAU1.COM -Wali Kota Agung Nugroho menggelar silaturahmi bersama Lembaga Pengelola Sampah (LPS) dari 83 kelurahan di rumah dinas wali kota, Selasa (17/2/2026) petang. Kinerja LPS dinilai berperan besar dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di jalan-jalan permukiman dan kawasan perumahan warga.
Wali Kota Agung mengungkapkan, pembentukan LPS berawal dari kondisi darurat sampah yang terjadi pada masa transisi kepemimpinan di awal tahun 2025. Saat itu, Kota Pekanbaru menghadapi persoalan serius berupa tumpukan sampah di berbagai titik.
“Berangkat dari kondisi tersebut, kami mulai membentuk LPS,” katanya.
Pada awal pembentukannya, keberadaan LPS sempat diragukan oleh sejumlah pihak. Bahkan, LPS dinilai akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan persampahan.
Seiring berjalannya waktu, LPS justru menunjukkan kinerja yang positif. Saat ini, banyak daerah lain yang tertarik untuk mempelajari pola pengelolaan sampah berbasis LPS yang diterapkan di Pekanbaru.
“Kini, ke mana pun saya turun dan bertemu dengan kepala daerah lain, mereka menyampaikan keinginan untuk belajar dari LPS Pekanbaru,” ungkapnya.
Sejak mulai diberdayakan pada Juli 2025, LPS di 83 kelurahan disebut telah mampu beroperasi secara mandiri tanpa dukungan anggaran dari APBD. Hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan dengan daerah lain yang masih mengandalkan subsidi pemerintah dalam pengelolaan sampah.
“Di daerah lain, pengelola sampah masih menggunakan subsidi pemerintah. Sementara di Pekanbaru, LPS mampu mandiri tanpa APBD,” ucap Agung.
Guna meningkatkan kinerja LPS ke depan, seluruh camat dan lurah diminta memberikan dukungan penuh. LPS ini merupakan lembaga resmi yang berperan penting dalam menjaga citra dan wajah Kota Pekanbaru.
“Tanpa dukungan camat dan lurah, LPS tidak akan mampu berjalan optimal dalam menjaga kebersihan,” tutur Agung.
Kebersihan tidak dapat diukur semata-mata dengan nilai uang. Melainkan, kebersihan dapat diwujudkan dengan kekompakan, kesadaran bersama, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan.
“Kebersihan itu mahal. Ukurannya bukan hanya uang, tetapi kekompakan, kesadaran, dan keterlibatan camat serta lurah,” tutup Agung.