Dari Bakso Bakar yang Sederhana, Bang Brewok Mampu Raup Omzet Puluhan Juta

25 Juni 2026
Ical berdiri mendampingi istrinya saat menyiapkan menu bakso bagi pembeli di area Gelanggan Remaja Pekanbaru. Foto: Surya/Riau1.

Ical berdiri mendampingi istrinya saat menyiapkan menu bakso bagi pembeli di area Gelanggan Remaja Pekanbaru. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Seorang pria berkulit sawo matang dan berjanggut tampak santai di samping tenda bazar. Sementara, beberapa orang sibuk mengambilkan makanan untuk para pembeli. 

Dua panci tampak penuh, masing-masing berisi bakso dan tahu. Sementara, panci yang lain berisi kuah kacang. Di sisi lain, terlihat telur gulung dan aneka makanan kekinian. Keseluruhan sajian itu tampak sederhana. 

Meski terkesan sederhana, bisnis kuliner menyimpan potensi yang besar di Pekanbaru. Setiap kali bazar digelar, pelaku usaha kuliner berlomba memanfaatkan momen tersebut untuk menarik pelanggan dan meningkatkan penjualan.

Kali ini, para pelaku usaha kuliner mendapat kesempatan meramaikan deretan stan di kawasan depan Stadion Gelanggang Remaja atas ajakan BRI Regional Office 2 Pekanbaru. Saat itu, pihak BRI menggelar konser dengan bintang tamu grup musik Letto di dalam stadion.

Salah stan di bazar itu dikelola oleh pria berjanggut lebat yang sebelumnya tampak duduk santai di samping tenda. Pria tersebut bernama lengkap Faizal Tanjung Brani Lubis. Ia menjalankan usaha kuliner Bakso Bakar Bang Brewok.

"Karena saya berjanggut lebat. Biar lebih dikenal dan mudah diingat orang," katanya.

Ical, sapaan akrabnya, berjualan di Jalan Taman Sari, Kelurahan Tangkerang Selatan, Kecamatan Bukitraya, setiap hari. Bersama sang istri, ia menjajakan bakso bakar, siomai, bakso gila, serta berbagai makanan kekinian. 

"Saya merintis usaha ini sejak awal tahun 2025. Saya juga yang memiliki ide membuat bakso gila ini," ujarnya.

Biasanya, bakso bakar hanya diberi lumuran saus sambal dan kecap. Namun, Ical menambahkan lumuran kuah kacang pedas sebagai pembeda.

Usaha bakso bakar ini ditekuni dengan lebih serius setelah Ical melihat potensi keuntungannya yang cukup menjanjikan. Dalam sehari, omzet yang diperoleh paling rendah sekitar Rp400 ribu. 

Bahkan, omzet usahanya dapat mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Tapi, pendapatan tersebut tidak hanya berasal dari satu lokasi usaha. Ical memiliki tiga cabang usaha bakso bakar. 

Usaha pertamanya berdiri di Jalan Taman Sari. Usaha kedua hadir di Jalan Air Dingin, kawasan yang ramai dikunjungi mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) untuk berburu kuliner. Sementara itu, cabang ketiga hanya sesekali dibuka di kawasan kuliner Riau Garden di Jalan Soebrantas, Kelurahan Delima, Kecamatan Binawidya.

"Saya membuka cabang di Riau Garden hanya pada momen-momen tertentu, tergantung ada atau tidaknya acara," ucap Ical.

Dengan tiga cabang usaha tersebut, ia dan istrinya harus menyiapkan persediaan bahan baku dalam jumlah yang cukup banyak. Bakso yang belum laku disimpan di dalam freezer

Untuk menghasilkan rasa pedas yang khas, Ical menggunakan cabai rawit setan sebagai bahan utama sambalnya. Meski harganya relatif mahal, usaha tersebut masih bisa menghasilkan keuntungan.

"Berjualan bakso bakar tentu ada pasang surutnya. Kadang sangat sepi, tetapi kadang juga habis terjual dalam satu malam," cerita Ical.

Melalui usaha bakso bakar ini, Ical telah memperkerjakan sekitar 10 karyawan. Dalam merekrut pekerja, ia tidak terlalu mempersoalkan latar belakang calon karyawan. Baginya, hal terpenting adalah kemauan untuk bekerja.

Karena bazar dan konser grup musik Letto tersebut digelar oleh BRI, Ical baru memiliki kode QRIS pada saat itu. Padahal, Ical dan istri telah lama menjadi nasabah BRI.

"Biasanya saya menggunakan QRIS dari bank lain. Meski baru memakai QRIS BRI, transaksi yang sudah masuk cukup tinggi pada acara ini," sebut Ical.

Sebagian besar transaksi dilakukan oleh pelanggan dari Generasi Z dan Alpha. Tercatat sekitar 100 transaksi melalui QRIS BRI sejak siang hingga jelang malam. 

Bagi Ical, penggunaan QRIS memberikan sejumlah menguntungkan. Selain membuat proses pembayaran lebih cepat, ia juga tak perlu repot menyiapkan atau mencari uang kembalian untuk pembeli.

"Makanya, sekarang saya lebih mengutamakan pembayaran lewat QRIS," pungkasnya.

Kesempatan berbeda, Junior Manager Retail Transaction Department Region 2 Pekanbaru Pitra Suci saat dihubungi mengatakan, jumlah QRIS yang tersebar sebanyak 171.926. Jumlah ini berdasarkan data terakhir pada 30 April 2026.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekanbaru Guswandi mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru didorong oleh konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah pada triwulan pertama tahun ini. Jika dilihat berdasarkan lapangan usaha, terdapat tiga sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut, yakni perdagangan, industri pengolahan dan konstruksi. Sektor perdagangan yang dimaksud antara lain mencakup usaha kuliner yang terus berkembang di Pekanbaru.

"Industri pengolahan juga menjadi sektor dengan kontribusi terbesar kedua terhadap pertumbuhan ekonomi. Sektor ini mencakup berbagai kegiatan usaha, termasuk dari kuliner seperti pembuatan kue. Adapun sektor dengan kontribusi terbesar ketiga adalah konstruksi," ujarnya.

Guswandi menjelaskan, sektor konstruksi yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi meliputi berbagai kegiatan pembangunan dan perbaikan infrastruktur yang dilakukan Pemko Pekanbaru, termasuk perbaikan jalan. Aktivitas tersebut turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang mendekati delapan persen.

Berbagai program dan pembangunan yang dilakukan Pemko Pekanbaru turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Sehingga, masyarakat merasa lebih nyaman dalam menjalankan usahanya.

"Kami mengetahui bahwa usaha kuliner berkembang pesat di Pekanbaru, salah satunya di Jalan Cut Nyak Dien. Aktivitas ekonomi seperti itulah yang turut menggerakkan perekonomian Kota Pekanbaru hingga tumbuh mendekati delapan persen," sebut Guswandi.

Perekonomian Kota Pekanbaru turut digerakkan oleh para pelaku usaha kuliner yang kian menjamur. Salah satunya adalah usaha Bakso Bakar Bang Brewok yang dirintis oleh Ical. Warga Pekanbaru yang terkenal konsumtif mendorong para pelaku kuliner untuk semakin berkembang, termasuk dengan membuka cabang usaha di berbagai lokasi.