Korban keracunan MBG dirawat/Tribunnews
RIAU1.COM - Jumlah korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon, terus bertambah. Tak hanya anak-anak, korban juga tergolong dewasa bahkan ada yang merupakan petugas SPPG.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, menyebutkan, berdasarkan pendataan hingga Rabu (21//10/2026) siang, total jumlah korban mencapai 270 orang. Mereka terdiri dari 231 anak dan 39 dewasa.
“Mayoritas anak sekolah, mulai TK, SD, dan setingkatnya, termasuk day care,” ujar Siti Maria, Rabu (21/10/2026) yang dimuat Republika.co.id.
Tak hanya anak sekolah, adapula anggota keluarga dari anak tersebut yang turut menjadi korban keracunan karena MBG-nya dibawa pulang ke rumah. Di antaranya ada seorang nenek yang turut terdampak karena memakan MBG milik cucunya yang dibawa pulang ke rumah.
“Ada pula dua petugas SPPG-nya yang juga terdampak dan ditangani di Rumah Sakit Gunung Jati,” terang Siti Maria.
Ia menjelaskan, pertama kali menerima laporan mengenai kejadian keracunan itu pada Selasa (20/10/2026) pukul 16.00 WIB. Ia bersama timnya segera meluncur ke RS Siloam Putra Bahagia Cirebon yang menjadi tujuan para orang tua yang anaknya mengalami gejala keracunan tersebut.
Hingga malam hari, pasien terus berdatangan ke RS Siloam sampai puluhan orang. Dinas Kesehatan pun mendatangkan tim bantuan dari Puskesmas dan tenaga-tenaga kesehatan lainnya untuk bahu-membahu membantu penanganan pasien di IGD RS Siloam.
Untuk mengatasi pasien yang terus bertambah, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Forkopimda merelokasi pasian yang baru datang ke sejumlah rumah sakit lainnya. Mereka menyediakan 14 ambulance untuk membawa para pasien tersebut.
“Pasien tidak serempak datangnya, datang lagi, datang lagi. Jadi saat pasien datang, langsung kami kirim ke rumah sakit yang masih belum penuh agar jangan sampai overload dan pasien kurang tertangani dengan baik. Saat itu yang paling dekat ke RS Ciremai, kemudian RS Gunung Jati, dan akhirnya hingga saat ini sudah melibatkan delapan rumah sakit di Kota Cirebon,” terangnya.
Siti Maria menyebutkan, dari 270 pasien yang mengalami gejala keracunan itu, sebanyak 77 orang menjalani rawat jalan. Sedangkan 211 orang lainnya menjalani rawat inap di delapan rumah sakit yang ada di Kota Cirebon.
Saat ditanya mengenai kondisi pasien terparah, ia menjelaskan, terdapat satu pasien balita berumur empat tahun yang mengalami penurunan kesadaran. Balita tersebut dirawat di RS Siloam dan mengalami penurunan kesadaran pada Selasa (21/10/2026) petang.
“Kami pantau terus kondisinya sampai malam, masih sama Pak Wali dan Forkopimda. Alhamdulillah jam 11 malam pasien akhirnya sadar, sudah sadar penuh. Mudah-mudahan tidak bertambah lagi yang kritis,” tuturnya.
Ia menambahkan, Dinas Pendidikan pun sudah menyisir melalui kepala-kepala sekolah dan guru-guru untuk mengantisipasi kemungkinan masih adanya anak yang mengalami gejala keracunan. Jika memang ada, maka anak yang bergejala itu diminta segera dibawa ke fasilitas kesehatan dan jangan dibiarkan sakit di rumah.
Dinas Kesehatan juga menyisir hingga ke Puskesmas dan Posyandu karena MBG juga menyasar 3B, yakni bumil (ibu hamil), busui (ibu menyusui) dan balita. Sejauh ini, baru dilaporkan ada tiga balita yang terdampak. Sedangkan bumil dan busui belum ada laporan.*