Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Pedagang kecil seperti penjual sayuran hingga pengusaha warung nasi (Warteg) "teriak" harga komoditas pangan serba mahal yang menyebabkan daya beli melemah hingga penurunan omzet mencapai 20 persen.
Keluhan tersebut disampaikan pedagang sayur di Pasar Anyar Kota Tangerang, Kholifah mengungkapkan beberapa hari belakangan ini harga barang dagangannya serba naik.
Mulai dari harga cabai rawit merah dari Rp60 ribu menjadi Rp90 ribu, cabai rawit hijau dari Rp50 ribu jadi Rp70 ribu, ada juga cabai keriting dari Rp40 ribu naik Rp75 ribu.
Selain itu, harga tomat dan mentimun juga catatkan kenaikan Rp5 ribu menjadi Rp18 ribu, diikuti harga lemon dan jeruk nipis mengalami kenaikan Rp10 ribu, bahkan sawi putih dan hijau hingga kubis naik sekitar Rp5 ribu.
"Semuanya naik dari 3-4 hari yang lalu. Katanya sih pemasukannya kurang karena kemarau panjang, banyak gagal panen," ucap Kholifah kepada CNN Indonesia.com di lapak dagangannya, Kamis (22/10).
Akibat kenaikan harga tersebut, tambah Kholifah, daya beli pelanggan menurun dari biasanya membeli sayuran 1 kg, kini hanya 1/2 kg. Selanjutnya berdampak pada omzet pedagang yang menurun lebih dari 20 persen.
"Jadi kalau begini, omzet menurun drastis sekitar lebih 20 persen. Amsyong kalau begini terus," keluhnya.
Hal senada disampaikan pedagang Warteg di Jalan Darusallam II, Kecamatan Batuceper, Andini merasa keberatan lantaran belakangan harga bahan pokok dagangannya serba naik. Terlebih lagi, dirinya tidak bisa menaikkan harga dagangan karena khawatir pelanggan kabur.
"Saya ngerasa keberatan lah, kalau apa-apa naik. Bahan pokoknya itu, kan beras naik, dulu 50 kg Rp600 ribu sekarang Rp750 ribu, terus minyak yang biasa Rp14 ribu sekarang Rp19 ribu. Belum lagi bahan-bahan bumbu, kayak bawang putih, kemiri, serai, semuanya pada naik," gerutu Andini.
Sementara itu, Andini enggan mengurangi takaran bumbu masakannya demi menekan anggaran belanja bahan baku. Jika itu ia lakukan, dikhawatirkan rasa dan kualitas dari produk jualannya berkurang, sehingga berisiko dikomplain pelanggan.
Untuk itu, ia mengaku untuk merelakan omzet turun dibandingkan harus mengorbankan kualitas produk demi memastikan usahanya terus berjalan, tanpa harus kehilangan pelanggan.
"Jadi, paling ngurangin keuntungan saya, dari biasa dapat Rp300 ribu sekarang Rp200 ribu per hari," tandas Andini.
Para pedagang juga meminta pemerintah bekerja ekstra untuk menekan kenaikan harga, sehingga masyarakat kecil tidak menjadi korban pelemahan ekonomi.*