Wilayah terdampak bencana Sumatra
RIAU1.COM - Bencana akibat siklon tropis yang melanda wilayah Sumatera telah mencatatkan sejarah kelam sebagai salah satu tragedi terburuk dalam sejarah modern Indonesia, dengan korban jiwa mencapai 967 orang dan 262 lainnya masih dinyatakan hilang.
Sebanyak 3,3 juta jiwa terdampak secara masif, kehilangan tempat tinggal, harta benda, hingga pola hidup mereka.
Kerugian ekonomi pun ditaksir menyentuh angka Rp68,8 triliun, setelah hantaman bencana merusak 3.500 bangunan, menghancurkan 271 jembatan, serta melumpuhkan 282 fasilitas pendidikan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di tengah duka tersebut, upaya pemulihan mulai menunjukkan kemajuan signifikan di bawah koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR).
Ketua Satgas PRR yang juga Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, seperti dimuat Antara mengonfirmasi bahwa 27 dari 52 kabupaten/kota terdampak kini telah kembali normal sepenuhnya.
Pemerintah juga telah menyiapkan skema bantuan bagi puluhan ribu rumah yang rusak, dengan indeks bantuan mulai dari Rp15 juta untuk rusak ringan hingga Rp60 juta untuk kategori rusak berat atau hilang. Peresmian 1.300 unit hunian sementara menjadi salah satu langkah nyata pemerintah dalam menstabilkan kondisi warga di lapangan.
Namun, dari sisi kebijakan, Ketua Panja Alih Fungsi Lahan DPR, Alex Indra Lukman, memberikan peringatan keras bahwa tragedi ini adalah dampak langsung dari hilangnya 1,4 juta hektare hutan tropis yang beralih fungsi menjadi area tambang dan sawit.
DPR mendesak pemerintah melalui Kementerian Kehutanan untuk menghentikan total pengalihan fungsi hutan di wilayah hulu sungai dan lereng gunung demi kepentingan strategis nasional apa pun.
Panja Alih Fungsi Lahan kini tengah merumuskan rekomendasi kebijakan tegas guna memastikan ekosistem hidrologis hutan tetap terjaga, sehingga bencana mematikan serupa tidak kembali berulang di masa depan.*