Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Provinsi Riau saat ini berada pada musim kemarau. Dalam beberapa hari ke depan, kondisi cuaca di wilayah Riau secara umum diprakirakan didominasi udara kabur hingga cerah berawan.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa Kedang, mengatakan meski musim kemarau masih berlangsung, peluang hujan tetap ada di sejumlah wilayah Riau.
“Beberapa hari ke depan masih diprakirakan keadaan cuaca pada umumnya udara kabur hingga cerah berawan. Dan terdapat potensi hujan ringan di wilayah Riau bagian utara dan barat,” ujar Elisa, Rabu (12/8/2026).
Kondisi tersebut sejalan dengan prakiraan BMKG untuk Dasarian II Agustus 2026 atau periode 11–20 Agustus 2026. BMKG memprediksi curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian, mendominasi 95,62 persen wilayah Indonesia. Sementara 4,38 persen wilayah lainnya diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah.
Curah hujan kategori rendah tersebut diprediksi terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku hingga Papua.
Meski kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, BMKG menyebut peluang hujan secara lokal tetap terbuka di sejumlah daerah akibat adanya dinamika atmosfer.
Salah satu faktor yang berperan adalah Gelombang Rossby Ekuatorial yang diperkirakan aktif di Kalimantan Selatan, Jawa bagian barat, Sumatera Selatan, Lampung hingga Papua Selatan.
"Selain itu, Gelombang Kelvin diprediksi melintasi Sumatera bagian tengah hingga utara, termasuk sebagian wilayah Aceh dan Riau, serta Papua Pegunungan hingga Papua Selatan," rilis BMKG.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga masih teridentifikasi melalui hasil filter spasial di sejumlah wilayah, meskipun secara umum MJO diperkirakan berada pada fase 6–7 di wilayah Western Pacific.
Aktivitas tersebut teridentifikasi di sebagian wilayah Sumatera, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat bagian utara dan Papua bagian utara.
Sejumlah gangguan atmosfer tersebut disebut masih berpotensi menginduksi pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah yang terdampak.*