PMRI Gelar Jambore Ekologis dan Festival Budaya Melayu untuk Generasi Muda Riau
Direktur Binmas Polda Riau Kombes Eko Budhi Purwono didamping Ketum PMRI Khoirul Bashar dan Kepala DLHK Pekanbaru Reza Aulia Putra menyerahkan bibit pohon kepada peserta Jambore Ekologis Malay Youth Summit dan Festival Kebudayaan Melayu Riau di Taman Rekreasi Alam Mayang, Pekanbaru, Kamis (21/5/2026
RIAU1.COM -Semangat menjaga kelestarian lingkungan dan merawat warisan budaya Melayu digaungkan dalam kegiatan Jambore Ekologis Malay Youth Summit dan Festival Kebudayaan Melayu Riau yang digelar oleh organisasi Pemuda Melayu Riau Indonesia (PMRI). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 21-23 Mei, tersebut diikuti ratusan pelajar dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau.
"Jambore ini menjadi wadah pembinaan generasi muda Melayu. Agar, mereka memiliki kepedulian terhadap lingkungan, budaya, dan masa depan daerah," kata Ketua Umum PMRI Khoirul Bashar di Taman Rekreasi Alam Mayang, Pekanbaru, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kecintaan terhadap generasi muda di Provinsi Riau. Jambore ini tidak hanya menjadi ajang berkumpul para pelajar. Tetapi, Jambore ini juga upaya menjaga warisan budaya Melayu sekaligus membangun karakter generasi muda yang peduli terhadap lingkungan.
“Ini sebagai wujud menjaga warisan kebudayaan serta lingkungan yang menjadi karakteristik anak-anak muda Melayu Riau yang harus terus kita pegang teguh,” ujar Khoirul.
Kegiatan tersebut juga dilatarbelakangi berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk isu lingkungan dan penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
Karena itu, PMRI menghadirkan sejumlah diskusi dan sosialisasi bersama berbagai pihak, seperti kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN), anggota DPRD, hingga perusahaan dan pemangku kepentingan di bidang lingkungan.
“Pada malam ini, ada sosialisasi terkait narkoba dari Polda Riau dan BNN untuk para peserta,” jelas Khoirul.
Peserta jambore berasal dari perwakilan sekolah di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Setiap daerah mengirimkan puluhan peserta dari beberapa sekolah.
Namun, sejumlah wilayah yang berjarak cukup jauh dari Pekanbaru, seperti Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir, belum dapat mengikuti kegiatan tahun ini. Selama pelaksanaan jambore, peserta mengikuti berbagai agenda, mulai dari diskusi ekologis lingkungan, diskusi energi, hingga sosialisasi bahaya narkoba. Selain itu, PMRI juga menggelar enam perlombaan bernuansa budaya dan kepemudaan, seperti lomba berbalas pantun, lagu Melayu, tari kreasi Melayu, Peraturan Baris Berbaris (PBB), hingga lomba pioneering atau tali-temali.
"Tema utama kegiatan tersebut adalah menjaga kelestarian alam dan merawat warisan budaya Melayu Riau agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman," ucap Khoirul.
Sementara itu, Direktur Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polda Riau Kombes Eko Budhi Purwono mengapresiasi pelaksanaan jambore tersebut. PMRI dinilai berhasil menghadirkan kegiatan yang tidak hanya membahas persoalan ekologis, tetapi juga melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Kegiatan ini luar biasa. PMRI merupakan tokoh-tokoh Melayu muda yang memikirkan masa depan,” katanya.
Eko mengajak generasi muda agar tidak ragu melangkah dan mulai memikirkan masa depan lingkungan sekitar melalui kolaborasi bersama berbagai pihak. Anak muda harus mulai memikirkan alam dan masa depan bersama.
Kesempatab berbeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru Reza Aulia Putra berharap jambore ini mampu melahirkan generasi muda yang mencintai lingkungan dan tetap menjaga budaya Melayu Riau. Kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni semata. Tetapi, jambore ini harus menjadi gerakan berkelanjutan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap adik-adik peserta mampu menjaga kesehatan, kebersihan lingkungan. Buktikan bahwa jambore ini adalah kegiatan berkelanjutan yang bisa diterapkan di lapangan,” tutupnya.