Prajurit AS Cari Cara Hindari Tugas Perang Lawan Iran

8 Maret 2026
Prajurit AS

Prajurit AS

RIAU1.COM - Seorang direktur dari sebuah lembaga yang mendukung para prajurit Amerika Serikat (AS) yang menolak berpartisipasi dalam perang mengungkap bahwa, layanan hotline mereka belakangan terus berdering. 

Mike Prysner, direktur eksekutif dari Center on Conscience & War, seperti dilaporkan WANA, yang dimuat Republika Sabtu (7/3/2026) mengunggah di X bahwa ia menerima banyak panggilan telepon dari prajurit yang menolak ditugaskan berperang melawan Iran.

Lembaga yang dipimpin Prysner belakangan membuka layanan panggilan untuk mengadvokasi para prajurit aktif yang meyakini bahwa perang AS-Israel terhadap Iran adalah kesalahan. Center on Conscience & War, juga akan memberikan petunjuk bagi para prajurit untuk menolak partisipasi perang.

Menurut Prysner, jumlah tentara yang kemungkinan dikerahkan ke Timur Tengah lebih besar dari yang pernah diberitahukan oleh Pentagon kepada publik. Situasi itu memicu kekhawatiran di antara para prajurit aktif yang berujung pada terus berderingnya layanan hotline Center on Conscience & War.

"Dengan diumumkannya kematian pertama warga Amerika dari perang immoral, banyak prajurit mulai mempertanyakan peran mereka. Peran kami adalah mencari mereka, membela mereka, dan membantu membawa mereka pulang," kata Prysner.

Angkatan Darat AS, pada Selasa (3/3/2026) mengumumkan identitas empat tentara AS pertama yang tewas dalam perang melawan Iran akibat diserang pesawat tak berawak di Kuwait.

Dari empat tentara AS yang tewas sejauh ini, keempatnya adalah anggota unit pasukan cadangan Angkatan Darat di negara bagian Iowa. 

Militer mengatakan pada Selasa bahwa keempatnya tewas ketika sebuah drone menabrak fasilitas militer AS di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait pada Ahad (1/2/2026).

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengatakan keempat tentara berusia antara 20 dan 42 tahun, dan bertugas di Komando Dukungan 103 dari Des Moines, Iowa, yang merupakan bagian dari operasi pasokan global militer.

Militer mengatakan pada Selasa bahwa keempatnya tewas ketika sebuah drone menabrak fasilitas militer AS di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait pada Ahad (1/2/2026).

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengatakan keempat tentara berusia antara 20 dan 42 tahun, dan bertugas di Komando Dukungan 103 dari Des Moines, Iowa, yang merupakan bagian dari operasi pasokan global militer.

Militer mengidentifikasi keempat tentara cadangan tersebut sebagai:

1. Kapten Cody A Cork (35 tahun) dari Winter Haven, Florida

2. Sersan Noah L Tiegens (42 tahun) dari Bellevue, Nebraska

3. Sersan Nicole M Amour (39 tahun) dari White Bear Lake, Minnesota

4. Sersan Declan J Cody (20 tahun) dari West Des Moines, Iowa.

Asesmen intelijen

Sebuah dokumen rahasia berisi laporan asesmen intelijen menyimpulkan bahwa serangan militer skala besar pun tak akan bisa menggulingkan Republik Islam Iran. Laporan yang didapat oleh Washington Post dilansir Al Mayadeen, pada Sabtu (7/3/2026) itu menyebutkan bahwa struktur ulama dan mliter di Iran sangat kokoh dan mampu mempertahankan sistem pemerintahan bahwa dalam kondisi tekanan hebat dari pihak luar.

Temuan ini terungkap di tengah pemerintahan Donald Trump yang mensinyalkan kemungkinan perang panjang dengan Iran, di mana beberapa pejabat menyatakan bahwa perang " baru saja dimulai". Menurut tiga orang yang mengetahui dokomen rahasia itu, kalangan intelijen AS meragukan tujuan Trump "membersihkan" kepemimpinan Iran dan menggantinya dengan pemimpin pilihannya.

Asesmen lengkap disusun oleh Dewan Intelijen Nasional (NIC) AS sepekan sebelum AS dan Israel melancarkan serangan. NIC menguji sejumlah skenario termasuk serangan terbatas pada pemimpin senior dan juga serangan yang lebih luas menyasar institusi pemerintahan dan kepemimpinan politik Iran.

Dari dua skenario itu, para analis intelijen menyimpulkan bahwa ulama Iran dan kepemimpinan militer akan pasti merespons pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dengan mengaktivasi mekanisme konstitusional untuk memastikan keberlanjutan kekuasaan. Laporan itu juga mengasesmen bahwa oposisi yang terfragmentasi di Iran kemungkinan tidak bisa mengambil alih kontrol kekuasaan dalam kondisi sekarang.

Para sumber yang dikutip Washington Post, menggambarkan pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok oposisi di Iran tidak mungkin terjadi. NIC terdiri dari para analis senior yang ditugaskan memproduksi asesmen rahasia yang merefleksikan analisis kolektif dari 18 dewan intelijen di AS.*