Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Vietnam diperkirakan akan melampaui Indonesia pada tahun 2026 ini. Pertumbuhan Vietnam melesat dengan terus berkembangnya industri berteknologi tinggi, termasuk komponen elektronik dan semikonduktor. Vietnam kini menarik perhatian investor asing sebagai alternatif basis manufaktur selain Tiongkok.
Berdasarkan prakiraan Dana Moneter Internasional (IMF), PDB nominal per kapita Vietnam akan mencapai 5.259 dolar AS pada 2026 atau tumbuh 8,9% secara tahunan (year-on-year), melampaui angka Indonesia yang sebesar 5.153 dolar AS. Angka tersebut telah meningkat hampir dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir.
PDB per kapita Vietnam menempati peringkat kelima di antara negara-negara ASEAN, tepat di bawah Thailand.
Vietnam telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi di atas 10% pada tahun 2026. PDB riil negara tersebut pada periode Juli–September tercatat tumbuh 9,95% secara tahunan.
MA Fujita, seorang peneliti senior di Institute of Developing Economies, menyatakan bahwa investasi publik yang proaktif dari pemerintah menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Investasi publik Vietnam selama periode Januari–September seperti dimuat Republika, meningkat 46% secara tahunan. Total rencana investasi untuk sepanjang tahun ini mencapai sekitar 1.000 triliun dong Vietnam (setara dengan sekitar 258 miliar yuan). Pembangunan jalan dan bandara akan digalakkan di seluruh negeri.
Investasi asing langsung (FDI) pada periode Januari–September meningkat 12% secara tahunan menjadi 21,1 miliar dolar AS. Perusahaan seperti Hon Hai Precision Industry asal Taiwan dan sejumlah perusahaan lainnya tengah memperluas kapasitas produksi mereka di Vietnam bagian utara.
Nilai investasi terdaftar—yang menjadi indikator utama tren investasi—melonjak 76% menjadi 50,3 miliar dolar AS.
Kinerja ekspor Vietnam juga menunjukkan hasil yang kuat. Volume ekspor pada periode Januari–September naik 25% secara tahunan menjadi 434,3 miliar dolar AS.
Perusahaan-perusahaan seperti Samsung Electronics dari Korea Selatan memiliki basis operasional di Vietnam untuk mengekspor produk elektronik dan ponsel pintar.
Statistik dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa defisit perdagangan barang AS dengan Vietnam mencapai 160 miliar dolar AS pada periode Januari-Agustus, melampaui defisit dengan Tiongkok maupun Meksiko, serta menempati peringkat pertama di antara seluruh negara dan wilayah.
Sementara itu menurut laporan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar di angka 5%. Meskipun telah berhasil menarik investasi asing langsung melalui berbagai industri, seperti kendaraan listrik (EV) berbasis baterai, hal ini belum sepenuhnya mendorong pertumbuhan lapangan kerja maupun pendapatan.
Selain itu, depresiasi mata uang rupiah juga telah menghambat laju pertumbuhan PDB nominal dalam denominasi dolar AS.
Vietnam menargetkan untuk meningkatkan PDB per kapita menjadi 8.500 dolar AS pada tahun 2030, setara dengan tingkat yang dicapai Thailand saat ini. Akibat sejumlah faktor, seperti tingginya utang rumah tangga, tingkat pertumbuhan ekonomi riil Thailand kini hanya berada di kisaran 2% per tahun.
Terdapat pula pandangan cukup berhati-hati mengenai apakah Vietnam mampu mencapai target yang ditetapkan pemerintahnya. Baik IMF maupun Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan tingkat pertumbuhan ekonomi Vietnam pada tahun 2027 akan berada di angka sekitar 7,5%.
Fujita menekankan bahwa tidak hanya diperlukan investasi infrastruktur untuk memacu pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga langkah-langkah yang mendukung pertumbuhan jangka panjang, seperti pengembangan talenta dan kemajuan teknologi.*