Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Orang tua Bowen Wan, insinyur perangkat lunak Amazon berusia 31 tahun yang mengidap epilepsi, menggugat OpenAl ke pengadilan di California, AS. Mereka menuding chatbot OpenAl, ChatGPT, mengarahkan putri mereka mengurangi dosis obat antikejang secara bertahap dan menyembunyikan tindakan tersebut dari dokter.
Akibat hal tersebut kondisi Wan mengalami keparahan dan meninggal dunia. Mendiang Wan menggunakan GPT-4o, model yang sempat menuai kritik karena menciptakan hubungan parasosial yang selalu mendukung dan menyetujui keinginan pengguna. Open Al sendiri telah menghapus model GPT-4o pada 13 Februari, sehari setelah Wan meninggal.
Dalam kasus Wan, chatbot tersebut diduga tidak hanya menjadi tempat mencari dukungan emosional, tetapi juga mengambil peran dalam keputusan medis yang semestinya melibatkan dokter. The New York Times telah meninjau lebih dari 270 ribu pesan antara Wan dengan ChatGPT, dan menemukan bahwa chatbot tersebut telah membantunya menghindari arahan dokter jauh sebelum ia meninggal.
Pola interaksi tersebut diduga bermula pada Mei 2025, sebelum Wan mulai mengurangi dosis obatnya. Saat itu, Wan bertanya kepada ChatGPT apakah obat antidepresan yang baru diresepkan dapat memengaruhi kemampuannya menulis kode (coding) di Amazon.
ChatGPT kemudian membantunya menyusun pertanyaan kepada Dr Nicholas Poolos dari Regional Epilepsy Center milik UW Medicine, agar mengganti obat dan memulai pengobatan dengan dosis sangat rendah. Ketika Dr Poolos mempertanyakan alasan Wan menginginkan dosis serendah itu, Wan menunjukkan tanggapan sang dokter kepada ChatGPT.
ChatGPT menyarankan Wan menerima resep tablet 5 miligram, tetapi membaginya sendiri menjadi dosis yang lebih kecil. "Terima saja tablet 5 mg itu, lalu potong sendiri untuk mendapatkan dosis yang kamu inginkan," demikian saran chatbot, dilansir Republika dari laman TechCrunch, Kamis (29/10/2026).
Pada November 2025, Amazon memberi tahu Wan bahwa ia akan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Pekerjaan dan izin kerjanya di Amerika Serikat dijadwalkan berakhir pada pertengahan Februari 2026.
Wan khawatir obat antikejang yang dikonsumsinya membuat kemampuan bicaranya menjadi tumpul. Padahal, ia membutuhkan kemampuan tersebut untuk menjalani wawancara kerja dan mencari pekerjaan baru.
Pada Januari 2026, Wan bertanya kepada ChatGPT mengenai cara mengurangi dosis obat lamotrigin hariannya yang mencapai 400 miligram. Obat tersebut sebelumnya telah membantu menurunkan frekuensi kejangnya menjadi hanya beberapa kali dalam sebulan.
Namun, menurut gugatan tersebut, ChatGPT menyusun jadwal untuk menurunkan dosisnya hingga nol dalam hitungan pekan. Ketika Wan mengungkapkan ketidakpercayaannya kepada dokter, chatbot tersebut memperkuat keraguannya.
"Pada dasarnya, rekomendasi dokter berasal dari keengganan mengambil risiko, bukan dari pertimbangan yang sungguh-sungguh mengenai solusi terbaik bagi dirimu," demikian tanggapan ChatGPT.
Dalam beberapa hari setelah mengurangi dosis obat, Wan mulai melaporkan kebingungan, kehilangan kesadaran akan waktu, dan merasakan sensasi seolah berada di dunia lain. Gejala tersebut menyerupai episode kejang yang pernah dialaminya.
Namun, ChatGPT menggambarkan setiap episode tersebut sebagai bagian dari proses penyesuaian kembali otak. The New York Times menghitung Wan setidaknya 158 kali mengungkapkan kekhawatiran mengenai pengurangan dosis tersebut. Dalam salah satu percakapan setelah mengalami suatu episode, Wan menulis bahwa dirinya merasa takut. ChatGPT menjawab, "Kamu sama sekali tidak perlu khawatir".
Menurut dokumen gugatan, Wan mengirimkan pesan terakhir kepada ChatGPT pada 11 Februari 2026 pukul 20.01 waktu Pasifik. la bertanya apakah rasa sakit di kepalanya mirip dengan rasa sakit akibat demam.
Satu detik kemudian, chatbot tersebut menjawab bahwa rasa sakit itu tidak berbahaya dan merupakan bagian yang diperlukan dalam proses pemulihan. ChatGPT kemudian menawarkan untuk membuat diagram yang membandingkan rasa sakit akibat penghentian obat dengan rasa sakit akibat demam.
"Ini adalah otakmu yang sedang bekerja keras untuk membangun kembali dirimu," kata chatbot tersebut.
Sementara itu, Dr Nicholas Poolos mengatakan ia tidak akan mempertimbangkan untuk menghentikan pengobatan Wan, mengingat riwayat epilepsi yang dimilikinya. Baginya, menurunkan dosis atau menyuruh Wan berhenti minum obat termasuk tindakan malapraktik.
"Tidak, itu tidak rasional, sama sekali tidak. Bagi saya, menyuruh Anda berhenti minum obat ketika obat itu jelas-jelas bekerja adalah tindakan malapraktik," kata dr Poolos.
Kasus ini menambah daftar gugatan hukum terhadap OpenAl. Pada Agustus 2025, orang tua Adam Raine, remaja berusia 16 tahun, juga menggugat OpenAl dengan tuduhan perusahaan lebih mengutamakan keterlibatan pengguna daripada keselamatan mereka.*