Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Hutan dinilai memiliki peran yang sangat krusial. Bukan hanya sekadar kawasan hijau, hutan juga dapat membantu menenangkan jiwa. Utamanya di tengah meningkatnya tekanan hidup masyarakat perkotaan dan ancaman triple planetary crisis (perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan).
Pakar lingkungan hutan dari IPB University, Prof Siti Badriyah Rushayati, mengatakan selain berfungsi sebagai penyerap karbon dan penjaga ekosistem, hutan juga berkontribusi langsung terhadap kesehatan manusia. Salah satunya melalui konsep healing forest atau terapi hutan.
Berbagai penelitian menunjukkan paparan lingkungan hutan memberikan dampak positif terhadap kesehatan fisik maupun mental. Menurut dia, terapi hutan terbukti menurunkan tingkat stres dalam tubuh.
"Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental," kata Prof Siti dalam keterangan tertulis, dikutip Kumparan pada Selasa (30/6/2026).
la menjelaskan bahwa manfaat tersebut tidak terlepas dari keberadaan phytoncide, yakni senyawa volatil alami yang dihasilkan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, maupun tekanan lingkungan. Bagi manusia, senyawa ini memiliki berbagai manfaat kesehatan.
"Phytoncide memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Paparan senyawa ini secara teratur juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental," ujar Prof Siti.
Meski demikian, Prof Siti mengatakan healing forest tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Lokasi terapi harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti tingkat kebisingan yang rendah, kualitas udara yang baik, kondisi medan yang aman, serta suasana yang mampu memberikan ketenangan bagi pengunjung.
"Dalam healing forest, seluruh panca indra harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal," kata dia.
Dia melihat healing forest juga memiliki potensi ekonomi yang besar melalui pengembangan wisata berbasis jasa lingkungan. Salah satu contohnya telah diterapkan di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Kabupaten Bandung, yang menawarkan paket wisata healing forest lengkap dengan jalur khusus, aktivitas terapi alam, dan pendampingan pemandu terlatih.
"Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan," kata dia.
la menegaskan bahwa upaya menghadapi triple planetary crisis memerlukan pendekatan berbasis lanskap, konservasi dan restorasi ekosistem, pembangunan hutan kota, peningkatan penyerapan polutan oleh vegetasi, pemanfaatan teknologi, serta pelibatan berbagai pemangku kepentingan. "Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya dapat tercapai apabila pembangunan berjalan selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan," kata Prof Siti.
Terapi hutan juga sudah menjadi salah satu gaya hidup sehat warga Jepang. Di Jepang, praktik ini dikenal sebagai shinrin-yoku, yang berarti menikmati suasana hutan sebagai bentuk terapi alami. Daripada berjalan di jalanan kota, warga Jepang lebih suka melakukan shinrin-yoku untuk dekat dengan alam.
Ketika berada di alam, seseorang akan menggunakan semua indera. Misalnya dengan berjalan, ia akan merasakan embusan angin, sinaran matahari, kicauan burung dan teduhnya pepohonan.
Hal itu memungkinkan pikiran dan tubuh menjadi lebih rileks. Faktanya, sebuah studi tentang shinrin-yoku menemukan bahwa bila dibandingkan dengan berada di lingkungan kota, berada di lingkungan hutan dikaitkan dengan tekanan darah yang lebih rendah, konsentrasi hormon stres yang lebih rendah, kortisol dan peningkatan aktivitas sistem saraf parasimpatis sehingga membuat tubuh lebih rileks.*