Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Membaca buku disebut bukan hanya bisa menambah wawasan. Sejumlah penelitian menunjukkan kebiasaan membaca dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak, kesehatan mental, bahkan berpotensi mendukung usia hidup yang lebih panjang.
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Chief Medical Officer dari Midi Health, Kathleen Jordan, mengatakan membaca merupakan salah satu aktivitas yang mendukung kesehatan kognitif. "Aktivitas yang merangsang pikiran seperti membaca, mempelajari keterampilan baru, atau mengerjakan teka-teki membantu menjaga otak tetap aktif, mengurangi stres, dan membangun ketahanan dari waktu ke waktu," kata Jordan dikutip Republika dari Verywell Mind, Rabu (22/7/2027).
Manfaat membaca buku bagi kesehatan juga telah diungkap dalam berbagai studi. Salah satunya penelitian tahun 2016 oleh peneliti dari Yale yang melibatkan 3.635 orang dewasa berusia 50 tahunan yang diamati selama 12 tahun.
Hasil studi menunjukkan peserta yang membaca buku selama 30 menit atau lebih setiap hari memiliki usia hidup rata-rata 23 bulan lebih panjang dibandingkan mereka yang tidak membaca buku. Hasil ini tetap sama bahkan setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kondisi kesehatan.
Menariknya, manfaat kesehatan ini tidak terlalu signifikan pada seseorang yang hanya membaca koran atau majalah. Para peneliti menduga, membaca buku memberi stimulasi lebih kuat bagi otak karena membutuhkan fokus lebih lama dan keterlibatan pikiran yang aktif.
Pakar neurologi dr Jonatham Graff-Radford mengatakan bahwa membaca buku secara rutin juga mendukung kesehatan otak. "Studi besar telah menemukan bahwa orang yang lebih sering membaca mungkin memiliki risiko kehilangan ingatan atau penurunan kognitif yang lebih rendah seiring bertambahnya usia," kata dia.
Salah satu alasan membaca bermanfaat bagi otak adalah karena aktivitas ini membantu membangun cadangan kognitif. Cadangan kognitif merupakan kemampuan otak untuk memiliki strategi alternatif sehingga dapat tetap bekerja dengan baik meskipun mengalami perubahan akibat penuaan atau cedera. Dengan cadangan kognitif yang lebih kuat, fungsi otak dapat bertahan pada tingkat yang lebih baik meski terjadi perubahan terkait usia.
Sejumlah studi lain juga menunjukkan hubungan antara aktivitas membaca dan kesehatan kognitif jangka panjang. Sebuah penelitian longitudinal selama 14 tahun terhadap orang dewasa menemukan bahwa mereka yang membaca setidaknya sekali dalam sepekan memiliki risiko penurunan kognitif yang lebih rendah. Hasil tersebut konsisten dalam evaluasi selama enam, sepuluh, hingga 14 tahun.
Penelitian lain pada 2021 mengamati bahwa orang lanjut usia yang tetap aktif secara mental melalui kegiatan seperti membaca, menulis surat, atau bermain permainan mengalami perkembangan penyakit Alzheimer sekitar lima tahun lebih lambat dibandingkan mereka yang kurang aktif secara kognitif. Sementara itu, tinjauan penelitian pada 2023 menemukan bahwa orang lanjut usia dengan gangguan kognitif ringan dapat memperoleh manfaat dari program stimulasi kognitif, yang salah satu bentuk aktivitasnya dapat mencakup membaca.
Selain manfaat bagi otak, membaca juga dikaitkan dengan kesehatan emosional. Stres yang berkepanjangan diketahui dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental. Karena itu, aktivitas sederhana seperti membaca dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengelola stres.
"Ada beberapa bukti bahwa membaca dapat mengurangi stres, dan stres yang lebih rendah berarti peradangan yang lebih sedikit, membuat tubuh jauh lebih sehat," kata Jordan.
Selain itu menurut Jordan, membaca buku juga bisa membantu melatih kesadaran penuh atau mindfulness, meningkatkan empati, membangun hubungan sosial, hingga mengurangi kebiasaan menggulir konten media sosial secara berlebih atau doomscrolling.*