Info Penting Bagi Pemudik, Kenali Penyebab Microsleep dan Risikonya

17 Maret 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Perjalanan mudik Lebaran sering identik dengan perjalanan jarak jauh yang dapat memakan waktu berjam-jam. Dalam kondisi seperti ini, rasa lelah dan kantuk sering muncul tanpa disadari. Salah satu kondisi yang kerap terjadi tetapi masih jarang dipahami adalah microsleep.

Microsleep merupakan kondisi ketika seseorang tertidur sangat singkat, hanya dalam hitungan detik. Meski berlangsung sebentar, kondisi ini cukup untuk membuat otak berhenti memproses informasi di sekitarnya.

Situasi tersebut tentu berisiko besar, terutama ketika seseorang sedang mengemudi atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu microsleep, bagaimana gejalanya, apa penyebabnya, serta bahaya yang dapat ditimbulkan. Dengan memahami kondisi ini, risiko kecelakaan selama perjalanan mudik dapat diminimalkan.

Apa Itu Microsleep?

Dilansir Beritasatu.com dari BBC, microsleep adalah periode tidur yang sangat singkat yang biasanya berlangsung hanya beberapa detik. Para peneliti umumnya mendefinisikan microsleep sebagai episode tidur yang terjadi selama sekitar 15 detik atau bahkan kurang.

Berbeda dengan tidur siang atau tidur singkat yang disengaja, microsleep terjadi secara tidak sadar. Seseorang dapat terlihat tetap terjaga, bahkan dengan mata terbuka, tetapi otaknya sebenarnya sedang tidak memproses informasi dari lingkungan seperti biasanya.

Karena durasinya sangat singkat, banyak orang tidak menyadari mereka baru saja mengalami microsleep. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai kehilangan fokus atau sekadar melamun selama beberapa detik.

Fenomena ini dapat dialami oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang tidak memiliki gangguan tidur. Microsleep sering terjadi ketika seseorang melakukan aktivitas monoton, misalnya mengemudi di jalan tol yang panjang dan relatif sepi.

Apa yang Terjadi di Otak Saat Microsleep?

Selama episode microsleep, aktivitas otak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Gelombang otak yang diukur menggunakan elektroensefalogram (EEG) menunjukkan perlambatan yang biasanya terjadi ketika seseorang mulai memasuki tahap awal tidur.

Meski demikian, microsleep tidak sepenuhnya sama dengan tidur normal. Pemindaian otak menggunakan teknologi functional magnetic resonance imaging (FMRI) menunjukkan sebagian area otak yang biasanya tidak aktif saat tidur masih tetap bekerja selama microsleep.

Beberapa bagian otak yang bertugas menjaga kewaspadaan bahkan masih menunjukkan aktivitas. Otak juga merespons suara secara berbeda selama microsleep.

Meskipun masih dapat mendeteksi suara, otak tidak mampu membedakan variasi suara dengan baik seperti saat seseorang benar-benar terjaga. Penelitian juga menemukan adanya tanda-tanda fisik sebelum microsleep terjadi.

Gerakan mata biasanya mulai melambat, kelopak mata perlahan turun, dan pupil dapat melebar. Perubahan kecil ini sering menjadi sinyal awal bahwa seseorang hampir tertidur tanpa menyadarinya.

Gejala Microsleep yang Perlu Diperhatikan

Karena berlangsung sangat cepat, microsleep sering kali tidak disadari oleh orang yang mengalaminya. Namun, terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi peringatan.

Salah satu gejala yang paling umum adalah mata yang tertutup sebagian atau sepenuhnya selama beberapa detik. Selain itu, kepala bisa tiba-tiba terangguk sebelum seseorang kembali tersadar.

Beberapa tanda lain yang sering muncul meliputi kelopak mata yang terasa berat, sering menguap, kepala tiba-tiba mengangguk, tatapan kosong, tubuh yang tersentak tiba-tiba, serta tidak mengingat beberapa menit terakhir saat berkendara.

Dalam beberapa kasus, pengemudi juga mulai kesulitan menjaga kendaraan tetap berada di jalur yang benar. Ketika microsleep terjadi, respons terhadap rangsangan seperti suara atau kondisi visual juga menurun. Akibatnya, seseorang menjadi lebih lambat bereaksi terhadap situasi di sekitarnya.

Penyebab Microsleep

Penyebab utama microsleep adalah rasa kantuk dan kurang tidur. Ketika tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, tekanan untuk tidur akan terus meningkat sepanjang hari.

Beberapa gangguan tidur juga dapat meningkatkan risiko terjadinya microsleep. Kondisi, seperti insomnia, sleep apnea, narcolepsy, hingga gangguan tidur akibat pola kerja shift sering dikaitkan dengan fenomena ini.

Selain itu, sejumlah faktor lain juga dapat memicu microsleep. Kurang tidur atau begadang, aktivitas monoton dalam waktu lama, serta mengemudi jarak jauh di jalan yang lurus dan sepi menjadi beberapa pemicu yang cukup umum.

Konsumsi obat tertentu yang menimbulkan efek kantuk juga dapat meningkatkan risiko terjadinya microsleep. Meski begitu, microsleep tidak selalu menandakan adanya gangguan tidur. Bahkan seseorang yang merasa cukup beristirahat tetap dapat mengalaminya ketika melakukan aktivitas yang membosankan atau repetitif.

Kapan Microsleep Biasanya Terjadi?
Microsleep dapat terjadi kapan saja selama seseorang berada dalam kondisi terjaga. Namun, peluang terjadinya akan meningkat ketika tubuh mengalami kelelahan atau kekurangan tidur.

Beberapa penelitian menunjukkan episode microsleep lebih sering terjadi pada siang hingga sore hari. Kondisi ini berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh yang secara alami menyebabkan peningkatan rasa kantuk pada awal sore, yang sering disebut sebagai post-lunch dip.

Orang yang bekerja pada malam hari juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami microsleep, terutama ketika melakukan perjalanan pulang di pagi hari setelah bekerja sepanjang malam.

Bahaya Microsleep Saat Berkendara

Risiko terbesar dari microsleep adalah kecelakaan, terutama ketika seseorang sedang mengemudi atau mengoperasikan mesin berat. Penelitian menggunakan simulasi mengemudi menunjukkan episode microsleep dapat menurunkan performa berkendara secara signifikan.

Ketika microsleep terjadi, pengemudi menjadi kurang responsif terhadap kondisi jalan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk bereaksi. Bahkan tidur selama dua detik saja sudah cukup membuat kendaraan berpindah jalur atau keluar dari jalan.

Dalam kecepatan tinggi, kondisi tersebut tentu berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal. Sebuah penelitian yang menganalisis rekaman kamera kendaraan dari puluhan pengemudi truk yang mengalami kecelakaan menemukan sekitar tiga perempat dari mereka menunjukkan tanda-tanda microsleep sebelum tabrakan terjadi.

Dalam salah satu kasus, pengemudi mulai berkedip dengan cepat sekitar satu menit sebelum kecelakaan. Beberapa detik kemudian tubuhnya berhenti bergerak dan kedipan mata menjadi semakin lambat

Empat detik sebelum tabrakan, matanya tertutup selama dua detik. Meskipun matanya kembali terbuka sesaat sebelum benturan, kendaraan sudah keluar jalur dan kecelakaan tidak dapat dihindari.

Cara Mencegah Microsleep Saat Perjalanan Jauh

Meskipun berbahaya, microsleep sebenarnya dapat dicegah dengan beberapa langkah sederhana, terutama saat melakukan perjalanan jauh seperti mudik Lebaran.

Salah satu langkah paling penting adalah memastikan tubuh mendapatkan waktu tidur yang cukup sebelum perjalanan. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam untuk menjaga kondisi tubuh tetap optimal.

Jika mulai merasa mengantuk saat berkendara, pengemudi sebaiknya segera menepi di tempat yang aman untuk beristirahat sejenak. Tidur singkat dapat membantu memulihkan kewaspadaan sebelum melanjutkan perjalanan.

Konsumsi minuman berkafein seperti kopi juga dapat membantu meningkatkan kewaspadaan untuk sementara waktu. Selain itu, jika bepergian bersama orang lain, bergantian mengemudi bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi kelelahan selama perjalanan panjang.

Pengemudi juga disarankan menghindari obat-obatan yang dapat menimbulkan efek kantuk sebelum berkendara. Berhenti sejenak untuk berjalan atau melakukan peregangan ringan juga dapat membantu meningkatkan aliran darah sehingga tubuh terasa lebih segar.

Microsleep kadang muncul sebagai akibat dari kurang tidur setelah begadang satu malam. Namun, jika kondisi ini terjadi secara berulang atau muncul meskipun sudah tidur cukup, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

Dokter dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan gangguan tidur atau kondisi medis lain yang menyebabkan rasa kantuk berlebihan pada siang hari. Pemeriksaan, seperti multiple sleep latency test (MSLT) sering digunakan untuk membantu mendiagnosis gangguan tidur seperti narcolepsy atau idiopathic hypersomnia.

Microsleep merupakan episode tidur yang sangat singkat, biasanya hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan respons terhadap lingkungan. Kondisi ini sering terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan, kurang tidur, atau melakukan aktivitas monoton seperti mengemudi jarak jauh.

Meski terlihat sepele, microsleep dapat menimbulkan risiko serius bagi keselamatan, terutama saat berkendara. Dalam hitungan detik saja, kendaraan bisa keluar jalur dan memicu kecelakaan fatal.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda microsleep dan mengambil langkah pencegahan seperti tidur cukup, beristirahat ketika lelah, serta tidak memaksakan diri untuk terus mengemudi saat mengantuk.

Dengan kewaspadaan yang baik, risiko microsleep selama perjalanan mudik dapat diminimalkan sehingga perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman.*