Dampak Buruk Stres Finansial dan Cara Mengatasinya

10 Mei 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Di tengah ketidakpastian global saat ini, kekhawatiran tentang masa depan makin meningkat, terutama terkait masalah keuangan.

Stres finansial menjadi salah satu masalah yang banyak dirasakan oleh masyarakat, apalagi dengan biaya hidup yang terus melambung tinggi.

Kalau Anda sedang cemas soal keuangan, mungkin Anda sudah bisa mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran. Namun, stres finansial tidak cuma soal uang, tetapi juga bisa mengganggu konsentrasi sehari-hari hingga kesehatan mental.

Menurut Verywell Mind, stres finansial merupakan ketegangan emosional yang khusus berkaitan dengan masalah keuangan. Semua orang bisa mengalami stres ini, tetapi hal ini lebih sering terjadi pada rumah tangga dengan pendapatan rendah.

Stres finansial biasanya muncul karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, seperti membayar sewa rumah, tagihan, dan kebutuhan sehari-hari.

Orang dengan pendapatan rendah juga sering mengalami tekanan tambahan dari pekerjaan mereka. Misalnya, kurang mendapat fleksibilitas waktu untuk cuti.

Ketika Anda khawatir tentang uang, otak terus-menerus memutar pikiran negatif seperti, "Bagaimana jika pemilik kontrakan menaikkan harga sewa?", "Apa mungkin saya harus pindah ke rumah orang tua?", atau "makanan apa sebaiknya tidak saya beli minggu ini?"

CNNIndonesia mengutip ABC News, berbagai pertanyaan di kepala tersebut akan menghabiskan ruang di otak Anda, yang dikenal sebagai kapasitas kognitif.

Adapun menurut sebuah penelitian dari Princeton University yang diterbitkan di jurnal Science pada 2013, stres finansial ini mengurangi kapasitas kognitif otak hingga setara dengan kehilangan 13 poin IQ.

Dampaknya sama seperti kondisi mengemudi dalam pengaruh alkohol atau kurang tidur selama 24 jam. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai "poverty brain."

Orang dalam kondisi tersebut cenderung sulit membuat keputusan yang baik. Tidak cuma keputusan soal keuangan, tetapi juga pekerjaan, hubungan, hingga kesehatan.

Namun kabar baiknya, efek "poverty brain" ini bersifat sementara. Ketika stres finansial mereda, kemampuan pengambilan keputusan Anda akan kembali normal. Namun hingga saat itu tiba, apa yang bisa kita lakukan?

Cara mengatasi stres finansial
Ada beberapa cara mengatasi stres finansial. Mulai dari mengatasi persoalan finansial itu sendiri hingga mengatasi kondisi psikologis kita. Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda coba:

1. Ciptakan sumber penghasilan tambahan
Tips dari Verywell Mind, jika Anda merasa penghasilan kurang, carilah sumber pendapatan tambahan untuk membantu mengurangi tekanan finansial.

Pilih cara yang tidak menambah beban stres, seperti pekerjaan sampingan yang sesuai minat atau keahlian Anda.

2. Rapikan anggaran keuangan
Melakukan pengecekan rutin terhadap anggaran sangat penting karena kehidupan selalu berubah.

Dengan mengatur dan menyusun ulang pemasukan dan pengeluaran, Anda bisa mengontrol keuangan lebih baik sehingga stres pun berkurang.

3. Cari nasihat keuangan dari yang berpengalaman
Menurut laman NHS, jika Anda memiliki utang, jangan ragu untuk mencari saran dari orang yang lebih berpengalaman tentnag bagaimana mengelola dan memprioritaskan pembayaran utang. Menghindari masalah keuangan hanya akan memperparah kecemasan.

4. Tingkatkan rasa percaya diri
Masalah keuangan sering kali membuat seseorang merasa gagal dan rasa percaya dirinya jadi menurun. Menurut laman Help Guide, cobalah melakukan hal-hal positif seperti menjadi sukarelawan atau belajar keterampilan baru.

5. Syukuri hal-hal baik dalam hidup
Fokus pada hal-hal positif bisa membantu mengurangi beban pikiran. Caranya, cobalah lebih mengapresiasi hubungan baik dengan orang lain, keindahan alam, atau kasih sayang hewan peliharaan.

Penting untuk memahami dampak stres finansial dan berbagai jalan untuk keluar dari pikiran negatif terkait keuangan. Jangan sampai kecemasan akan masa depan mengurangi konsentrasi Anda di saat ini.*