Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Pernahkah kamu merasa tak tenang saat tidak mengecek ponsel, bahkan hanya dalam lima menit? Atau membuka Instagram dan TikTok dengan niat hanya scrolling sebentar, namun tanpa disadari bablas sampai 30 menit?
Hal ini telah menjadi bagian dari fenomena digital yang semakin dikaitkan dampaknya bagi kesehatan. Ponsel dan media sosial tidak sepenuhnya buruk. Namun jika penggunaannya mulai sulit dikendalikan bahkan menggeser aktivitas penting lain, seperti tidur, belajar, bekerja, berolahraga, atau bersosialisasi, itu bisa menjadi masalah perlu diwaspadai.
Berbagai penelitian telah mengungkap bahwa penggunaan digital yang berlebih terkait dengan kesulitan mengatur emosi, kecemasan, gangguan tidur, perilaku sedentari, hingga masalah fisik. Lantas kebiasaan digital apa saja yang perlu dihindari? Berikut seperti dilansir Republika dari laman Euro News, Ahad (30/8/2026):
1. Doomscrolling
Doomscrolling merupakan kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara kompulsif. Isinya bisa berupa berita perang, bencana, krisis, kecelakaan, penyakit, hingga skandal. Satu berita membawa pengguna ke berita berikutnya dan jari terus menggulir layar.
Ironisnya, seseorang mungkin mencari informasi untuk merasa lebih siap menghadapi keadaan. Namun, semakin banyak berita negatif yang dikonsumsi, kecemasan justru dapat meningkat.
Doomscrolling bukan merupakan diagnosis medis resmi. Namun, fenomena doomscrolling telah menjadi objek penelitian mengenai perilaku daring bermasalah dan dikaitkan dengan gangguan kesehatan termasuk kesulitan mengatur emosi.
2. Gaming disorder
Gaming disorder telah diakui sebagai gangguan kesehatan mental oleh WHO. Gangguan ini ditandai dengan hilangnya kendali atas aktivitas bermain, meningkatnya prioritas bermain dibandingkan aktivitas lain, serta tetap bermain meski sudah menimbulkan konsekuensi negatif.
Untuk bisa disebut gaming disorder, perilaku tersebut harus berdampak signifikan terhadap kehidupan pribadi, keluarga, sosial, sekolah, atau pekerjaan dan umumnya berlangsung setidaknya selama 12 bulan. Artinya, bermain gim selama beberapa jam tidak otomatis berarti seseorang mengalami gaming disorder.
3. FOMO
Fear Of Missing Out alias FOMO adalah rasa takut ketinggalan informasi, pengalaman, atau sesuatu yang sedang viral di internet. FOMO bukan diagnosis medis resmi. Namun, fenomena ini telah diteliti dalam kaitannya dengan penggunaan internet dan media sosial yang bermasalah.
Penelitian pada 2024 menemukan hubungan antara FOMO, penggunaan media sosial bermasalah, dan doomscrolling. Salah satu faktor yang berperan adalah kemampuan mengatur emosi.
4. Kecanduan media sosial
Social media addiction atau kecanduan media sosial juga belum masuk dalam klasifikasi diagnosis WHO, namun fenomena ini telah banyak diteliti. Beberapa tanda kecanduan medsos antara lain sulit berhenti, terus terdorong mengecek media sosial, menggunakan platform lebih lama dari yang direncanakan, hingga mengabaikan aktivitas lain. Seseorang juga bisa merasa mudah tersinggung ketika tidak dapat mengakses media sosial dan tetap menggunakannya meski sudah menimbulkan masalah.
Survei WHO melalui Health Behaviour in School-aged Children terhadap hampir 280 ribu anak berusia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara menunjukkan 11 persen remaja memiliki tanda penggunaan media sosial bermasalah. Angka ini naik dari 7 persen pada 2018.
5. Nomophobia
Nomophobia berasal dari istilah "no mobile phone phobia", yang merujuk pada rasa cemas atau tidak nyaman ketika seseorang jauh dari ponsel, kehilangan koneksi, atau tidak bisa mengakses informasi di internet. Istilah ini juga belum menjadi diagnosis medis resmi, namun fenomenanya terus dipelajari. Penelitian pada 2026 misalnya, melihat keterkaitan antara nomophobia, kecanduan media sosial, dan FOMO. Hasilnya menunjukkan, ketakutan kehilangan informasi menjadi salah satu penghubung penting antara ketiganya dengan gejala kecemasan dan depresi.
Dalam kondisi tertentu, ponsel bahkan bisa terasa seperti "dewa penyelamat". Saat ponsel ada di tangan, seseorang merasa tenang. Sebaliknya, ketika ponsel tidak ada, meski hanya beberapa menit, rasa gelisah bisa muncul.*
