Risiko Depresi Kalau Main Medsos Lebih dari 2,5 Jam Sehari

28 Agustus 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Penggunaan media sosial selama lebih dari 2,5 jam atau 150 menit per hari berkaitan dengan depresi pada orang dewasa. Hal ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Cincinnati (UC) dan Northwestern University serta dipublikasikan dalam jurnal Mental Health Research.

Para peneliti menganalisis data selama 11 tahun dari Media Behaviors and Influence Study mulai 2014. Hasilnya menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial dan depresi yang dilaporkan sendiri muncul secara konsisten pada setiap tahun yang diteliti.

"Mengenai depresi dan media sosial, argumennya terlihat jelas dalam berbagai pengujian ilmiah selama 11 tahun tersebut. Ini gambaran yang sangat buruk. Media sosial berbahaya bagi individu sepanjang rentang kehidupan," kata peneliti UC Hans Breiter dilansir Republika dari laman Medical Xpress, Jumat (28/8/2026).

Dalam studi ini, tim peneliti menganalisis 183.300 survei anonim dari orang dewasa berusia 18 hingga 70 tahun. Data berasal dari Media Behaviors and Influence Study, survei yang dilakukan setiap tahun oleh Prosper Insights & Analytics.

Survei tersebut telah dilakukan sejak 2002 dan mencakup 1.318 pertanyaan mengenai berbagai topik. Kondisi kesehatan responden diukur melalui 31 indikator, termasuk depresi yang dilaporkan sendiri.

Para peneliti kemudian menggunakan model pembelajaran mesin untuk menganalisis data. Model tersebut dievaluasi menggunakan berbagai alat yang dirancang untuk memastikan akurasi dan kalibrasinya. Dari analisis itu, peneliti menemukan hubungan yang semakin kuat antara penggunaan media sosial dan depresi.

Salah satu temuan utama penelitian adalah munculnya ambang batas sekitar 150 menit atau 2,5 jam penggunaan media sosial per hari. Peneliti menemukan korelasi dengan depresi yang dilaporkan sendiri pada responden yang menggunakan media sosial setidaknya 150 menit sehari. Pola tersebut ditemukan secara konsisten pada seluruh 11 tahun yang dianalisis.

"Kesehatan mental dan kebahagiaan berkaitan dengan keterlibatan aktif di dunia nyata dan memiliki tujuan hidup, bukan sekadar menonton sesuatu secara pasif selama berjam-jam," kata Breiter.

Johnathan Avant, mahasiswa doktoral UC sekaligus salah satu penulis penelitian, mengatakan penggunaan media sosial secara berlebihan telah lama diyakini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan. "Anda dapat melihat tren di media sosial ketika mereka membicarakan dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental mereka," kata Avant.

Dalam periode 11 tahun penelitian, penggunaan media sosial juga semakin menjadi prediktor depresi yang penting. Pengaruhnya bahkan melampaui sejumlah faktor lain, seperti menonton televisi dan berselancar di internet.

Para peneliti juga menilai cara masyarakat menggunakan media sosial telah berubah. Nicole Vike, peneliti senior UC sekaligus salah satu penulis penelitian, mengatakan media sosial pada awalnya lebih berfungsi sebagai sarana bersosialisasi dengan orang-orang yang sudah dikenal.

Kini, menurut dia, pengguna lebih sering mengonsumsi konten yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mereka kenal. "Ini gila, betapa adiktifnya media sosial. Lihat para kreator konten yang terus-menerus online," kata Vike.

Peneliti kemudian mengungkap sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membatasi waktu penggunaan media sosial. Antara lain memasang pengatur waktu penggunaan, mematikan notifikasi, serta keluar atau log out dari akun setelah setiap sesi.

"Ada banyak tekanan sosial untuk tetap terhubung dan eksis di dunia maya. Jadi, menyadari risikonya sedini mungkin adalah hal yang penting," kata peneliti.*