Cara Mengatasi Kebanyakan Membuka Berita

10 Oktober 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Di tengah derasnya arus informasi, mengikuti berita terbaru seolah sudah menjadi bagian dari keseharian. Cukup membuka media sosial dan melakukan scrolling beberapa menit, berbagai kabar dari dalam negeri hingga dunia langsung muncul di layar.

Namun, terlalu banyak informasi juga bisa membuat seseorang kewalahan. Kondisi ini dikenal sebagai overwhelmed, ketika informasi yang diterima sudah melebihi kapasitas seseorang untuk memprosesnya. Psikolog Veronica Adesla mengatakan kondisi tersebut lebih mudah terjadi ketika informasi yang dikonsumsi didominasi kabar negatif.

"Informasi itu kalau kita bilang overwhelmed biasanya adalah informasi-informasi yang bersifat negatif. Informasi-informasi yang isinya mungkin itu adalah konflik, bencana, kemudian prediksi ke depan yang negatif, entah itu tentang iklim, entah itu tentang ekonomi, politik," kata Veronica saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/10).

Menurut dia, kondisi ini semakin mudah terjadi karena algoritma media sosial cenderung terus menyajikan konten yang serupa dengan informasi yang sebelumnya dilihat atau dicari pengguna.

Tanpa disadari, seseorang akhirnya terus mencari informasi mengenai isu yang sama. Kebiasaan ini dapat memicu kecemasan, kepanikan, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Kita akhirnya terserap ke dalam informasi, mencari informasi terus-terusan, akhirnya membuat kita cemas, membuat kita panik, membuat kita kemudian akhirnya terdistraksi dari kerjaan dan tugas kita yang utamanya yang harus kita lakukan," lanjutnya.

Meski begitu, Veronica menegaskan bahwa membatasi konsumsi berita bukan berarti seseorang harus menutup diri dari informasi.

Menurut Veronica, tetap mengetahui kondisi terkini penting karena informasi dapat membantu seseorang memahami situasi yang sedang dihadapi dan mengambil keputusan dengan lebih tepat. Lantas, bagaimana cara tetap mengikuti berita tanpa tenggelam di dalamnya? Berikut caranya.

1. Tentukan waktu khusus untuk membaca berita
Veronica menyarankan seseorang memiliki window time atau waktu khusus untuk mencari informasi. Misalnya, membaca berita pada pagi hari sambil sarapan atau minum kopi.

Informasi terbaru juga bisa kembali diperiksa saat waktu istirahat siang atau sore. Dengan begitu, membaca berita tidak berubah menjadi kebiasaan scrolling tanpa batas.

2. Pilih sumber utama, bukan hanya opini
Saat ingin mengetahui suatu isu, Veronica menyarankan untuk mencari sumber utama dan memahami berita utamanya.

"Yang kita perlu tahu adalah source pertamanya. Berita utamanya apa, ambil waktu di pagi, siang mungkin pada saat break, boleh aja kita cari lagi ada pertemuan apa, atau ada kejadian terkini apa lagi," ujarnya.

Banyaknya informasi tidak selalu berarti seseorang mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Justru, terus membaca berbagai unggahan mengenai isu yang sama dapat membuat seseorang semakin terseret ke dalam arus informasi.

3. Bedakan fakta, opini, dan prediksi
Saat membaca berita atau melihat informasi di media sosial, jangan langsung menganggap semua yang muncul sebagai fakta.

Veronica menyarankan untuk melihat kembali informasi yang diterima. Cara sederhana ini dapat membantu seseorang menyaring informasi sebelum ikut terbawa oleh narasi yang beredar.

4. Tanyakan apakah isu tersebut penting bagi diri sendiri
Tidak semua informasi yang muncul di layar harus diikuti sampai tuntas. Setelah mengetahui sebuah isu, seseorang bisa bertanya kepada diri sendiri apakah informasi tersebut memang berkaitan dengan kehidupannya atau membutuhkan respons tertentu.

Jika sebuah isu tidak berkaitan langsung dengan kehidupan dan tidak ada hal yang bisa dilakukan, seseorang tidak perlu terus-menerus mencari pembaruan mengenai isu tersebut.

5. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan
Berita mengenai kondisi ekonomi, politik, lingkungan, atau keamanan sering kali membuat orang merasa tidak berdaya karena persoalannya berada di luar kendali pribadi.

"Yang di luar kendali, ya sudah. Kita juga enggak bisa ngapa-ngapain, kita fokus ke apa yang bisa di dalam kendali kita dan apa yang memang kita mau kontribusi," tuturnya.

Kontribusi yang dilakukan bisa dimulai dari diri sendiri. Misalnya, saat terpapar berita buruk soal perekonomian, kita bisa berpikir untuk lebih bijak dalam berbelanja.

"Nah, hal-hal seperti ini yang bisa kita lakukan karena memang ada dalam kendali kita," lanjutnya.

Membatasi konsumsi berita sesekali bukan berarti seseorang menjadi tidak peduli dengan keadaan sekitar. Justru, ada kalanya seseorang perlu memberi batas ketika informasi yang diterima sudah terlalu banyak dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dengan memberi batas pada waktu dan sumber informasi yang dikonsumsi, seseorang tetap dapat mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya tanpa kehilangan kendali atas kesehariannya.*