Cara Berikut Diyakini Cegah Otak 'Berkarat' pada Usia 30-an

13 Juni 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Fungsi kognitif tidak akan tetap sama sepanjang hidup. Memasuki usia 30-an, sebagian orang biasanya mulai merasa sering lupa, gampang terdistraksi hingga sulit fokus. Fenomena ini kerap digambarkan sebagai otak "berkarat".

Untungnya, menurut ahli saraf Tony Nader, penurunan fungsi kognitif di usia 30-an masih bisa dicegah atau diperlambat melalui kebiasaan sehari-hari yang mendukung kesehatan otak. Menurutnya, otak tetap memiliki kemampuan untuk berubah dan berkembang sepanjang hidup melalui proses yang disebut neuroplastisitas.

"Otak tetap mampu berubah secara positif sepanjang hidup. Ilmu saraf menyebut kemampuan beradaptasi ini sebagai neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk mengatur ulang dirinya sendiri, memperkuat jalur saraf, dan terus belajar dari waktu ke waktu," kata Nader dilansir Republika dari laman Hindustan Times, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, apa yang sering dianggap sebagai "otak berkarat" sebenarnya tidak menggambarkan penurunan permanen pada otak. Namun lebih mencerminkan akumulasi berbagai faktor seperti stres yang berkepanjangan, stimulasi berlebihan dari lingkungan, kelelahan fisik dan mental, serta kurangnya waktu pemulihan.

Untuk mengatasinya, Nader menyarankan lima kebiasaan terbaik yang dapat membantu menjaga kesehatan otak, kejernihan berpikir, dan kreativitas:

1. Olahraga teratur

Menurut Nader, olahraga adalah salah satu cara paling terbukti untuk mendukung fungsi otak. Aktivitas seperti berjalan kaki, berenang, dan bersepeda dapat meningkatkan aliran darah ke otak serta merangsang pelepasan brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yaitu protein yang berperan dalam pembelajaran, memori, dan perbaikan saraf.

la menegaskan bahwa olahraga tidak hanya berkaitan dengan penurunan berat badan, tetapi juga sangat penting bagi kesehatan otak. Bahkan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki secara rutin dapat membantu meningkatkan fokus, kejernihan berpikir, dan kemampuan kognitif secara keseluruhan.

2. Tidur
 
Tidur tidak hanya soal durasi, tetapi juga kualitas. Saat tidur, sistem glinfatik bekerja membersihkan limbah metabolik yang menumpuk di otak sepanjang hari.

"Proses ini membantu membersihkan limbah metabolik yang menumpuk sepanjang hari, dan sistem ini paling aktif saat tidur dalam serta mungkin berperan penting dalam melindungi otak dari penurunan akibat usia," jelas Nader. Sebaliknya, kurang tidur dapat berdampak negatif pada fungsi otak, termasuk gangguan fokus, ketidakstabilan suasana hati, serta penurunan kemampuan kognitif secara umum.

3. Nutrisi
 
Asupan makanan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak. Nader menyarankan untuk secara rutin mengonsumsi makanan yang ramah otak, seperti makanan yang kaya omega-3, buah-buahan, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh.

la juga mengatakan pola makan Mediterania dapat membantu menurunkan risiko penyakit degeneratif seperti demensia. Kombinasi nutrisi yang tepat dianggap dapat mendukung fungsi otak jangka panjang.*