Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Sebanyak 64 persen generasi Z (Gen Z) di Indonesia disebut mengalami stres finansial di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini mendorong banyak anak muda melakukan belanja impulsif atau membeli barang secara berlebihan untuk mengurangi tekanan yang dirasakan.
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Nixon LP Napitupulu mengatakan fenomena tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat mengganggu kesehatan keuangan generasi muda.
"Sebanyak 64 persen Gen Z Indonesia saat ini mengalami stres finansial. Kondisi ini memicu fenomena doom spending atau belanja impulsif karena pesimisme terhadap masa depan,” ujar Nixon saat memberikan kuliah umum di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Kamis (12/6/2026) yang dimuat Republika.
Nixon menjelaskan kenaikan biaya hidup menjadi faktor utama yang memicu stres finansial di kalangan Gen Z. Selain itu, keinginan untuk memperbaiki suasana hati dan penggunaan utang secara impulsif juga menjadi penyebab meningkatnya tekanan keuangan.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini. Menurut Nixon, tabungan dan investasi seharusnya menjadi pos yang disisihkan terlebih dahulu, bukan menunggu sisa dari pengeluaran bulanan.
Ia juga mendorong generasi muda memiliki tujuan keuangan yang jelas, baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang. Selain itu, dana darurat perlu disiapkan untuk menghadapi berbagai risiko yang tidak terduga.
Nixon mengingatkan agar penggunaan utang dilakukan secara hati-hati dan hanya untuk kebutuhan yang produktif. Generasi muda juga diminta tidak mudah mengikuti berbagai saran keuangan yang beredar di media sosial tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.
“Gen Z sangat dipengaruhi influencer finansial, padahal hanya sebagian yang rutin memverifikasi nasihat tersebut,” kata Nixon.
Dalam kesempatan yang sama, BTN menandatangani nota kesepahaman dengan Universitas Airlangga (Unair) untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, literasi keuangan, dan layanan perbankan digital di lingkungan kampus.*