Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Media sosial telah menjadi ruang baru bagi banyak orang untuk berbagi cerita, mengungkapkan perasaan, hingga mencurahkan keluh kesah yang mungkin tidak mereka sampaikan secara langsung kepada orang lain. Fenomena ini semakin umum terjadi seiring meningkatnya penggunaan platform digital dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, apa sebenarnya yang membuat seseorang gemar curhat di media sosial? Apakah mereka hanya mencari perhatian, atau ada alasan psikologis yang lebih dalam?
CNNIndonesia mengutip Avidian, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan berbagi cerita di media sosial sering kali berkaitan dengan kebutuhan sosial, pencarian identitas diri, hingga keinginan untuk memperoleh dukungan emosional dari lingkungan sekitar.
Berikut karakter orang yang suka curhat di media sosial:
1. Ingin didengar dan dipahami
Salah satu alasan utama seseorang membagikan cerita pribadi di media sosial adalah keinginan untuk memberi tahu orang lain tentang hal yang mereka pedulikan. Sebuah studi yang dilakukan New York Times Consumer Insight Group menemukan hampir separuh responden membagikan sesuatu karena ingin memengaruhi opini, menyebarkan informasi, atau mendorong tindakan tertentu dari orang lain.
Dalam konteks curhat, unggahan tentang masalah pekerjaan, hubungan, atau tekanan hidup sering kali merupakan cara seseorang mencari pemahaman dari lingkungan sosialnya. Respons berupa komentar, dukungan, atau sekadar tanda suka dapat memberikan rasa bahwa mereka tidak menghadapi masalah sendirian.
2. Ingin menunjukkan jati diri
Orang yang sering curhat di media sosial juga kerap menggunakan platform digital sebagai sarana mengekspresikan identitas diri. Penelitian menunjukkan banyak pengguna membagikan konten untuk menunjukkan siapa mereka, apa yang mereka pikirkan, dan nilai-nilai yang mereka yakini.
Bagi sebagian orang, curhat bukan hanya tentang masalah yang sedang dihadapi. Curhat menjadi bagian dari cara mereka membangun citra diri di hadapan teman, keluarga, atau pengikut di media sosial.
Ungkapan tentang perjuangan hidup, pengalaman pribadi, atau pandangan terhadap suatu isu dapat menjadi bentuk pernyataan tidak langsung mengenai karakter dan kepribadian mereka.
3. Menjaga koneksi dengan orang lain
Media sosial pada dasarnya dirancang untuk membangun hubungan sosial. Tak heran jika banyak orang memanfaatkannya untuk tetap terhubung dengan teman lama, keluarga, atau kenalan yang jarang ditemui secara langsung.
Ketika seseorang membagikan cerita pribadi, mereka sering kali berharap mendapat respons yang memperkuat rasa kedekatan dengan orang lain. Dalam banyak kasus, curhat di media sosial menjadi cara mempertahankan hubungan dan membuka percakapan dengan lingkaran sosial mereka.
4. Mencari validasi dan perasaan positif
Mengutip Help Guide, psikolog sosial dari University of Pennsylvania, Jonah Berger, menilai bahwa interaksi di media sosial sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang ingin dipersepsikan oleh orang lain. Pengguna cenderung membagikan konten yang memunculkan respons positif, seperti kekaguman, kegembiraan, atau empati.
Ketika sebuah unggahan mendapatkan banyak komentar, dukungan, atau reaksi positif, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Karena itu, sebagian orang merasa terdorong untuk terus membagikan cerita pribadi agar memperoleh pengalaman emosional yang sama.
5. Lebih rentan saat merasa kesepian
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang cenderung lebih sering membuka media sosial ketika sedang merasa kesepian, cemas, stres, atau tidak nyaman dalam situasi sosial. Platform digital kemudian menjadi semacam 'selimut pengaman' yang memberikan rasa koneksi instan dengan orang lain.
Dalam kondisi tersebut, curhat di media sosial dapat menjadi bentuk pelarian sementara dari emosi negatif. Sayangnya, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini justru berpotensi memperburuk perasaan kesepian dan ketidakpuasan yang sedang dialami.*