Kurang Tidur Ganggu Kesehatan Paru-paru

15 Agustus 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Durasi tidur ternyata tidak hanya berkaitan dengan rasa lelah dan kebugaran tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan sistem pernapasan. Tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama sama-sama dikaitkan dengan lebih seringnya muncul keluhan seperti batuk, mengi, dan sesak napas.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan, mengingatkan pentingnya menjaga durasi tidur yang cukup untuk membantu tubuh, termasuk paru-paru, melakukan pemulihan secara optimal.

“Saya ingin mengingatkan Anda yang sering begadang, atau justru gemar tidur lama, keduanya ternyata sama-sama bisa memengaruhi napas Anda. Lalu, sebenarnya berapa lama kita perlu tidur?” kata Prof. Erlina, dikutip Okezone, Sabtu (15/8/2026).

Ia merujuk pada studi yang menganalisis data survei kesehatan nasional Amerika Serikat atau National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) periode 2005–2012. Penelitian tersebut melibatkan 14.742 orang dewasa dan menemukan bahwa durasi tidur 7–8 jam per malam berkaitan dengan tingkat keluhan pernapasan yang lebih rendah.

Kelompok yang tidur dalam rentang tersebut tercatat lebih jarang mengalami masalah pernapasan. Sebaliknya, kurang tidur secara terus-menerus dapat mengurangi waktu tubuh untuk melakukan proses pemulihan sehingga berpotensi memengaruhi kondisi saluran pernapasan.

“Sebab saat tidur kurang dari itu, tubuh kehilangan waktu untuk memulihkan diri, sehingga saluran napas lebih mudah teriritasi dan muncullah batuk, mengi, hingga sesak,” jelas dia.

Kebiasaan Tidur
Bukan hanya kurang tidur, kebiasaan tidur terlalu lama juga perlu diperhatikan. Menurut Prof. Erlina, durasi tidur yang berlebihan dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu atau adanya proses peradangan yang membuat tubuh tetap merasa lelah.

“Lalu bagaimana dengan yang tidurnya justru berlebihan? Ternyata itu pun bukan tanpa risiko. Tidur terlalu lama sering menandakan ada gangguan kesehatan atau peradangan tersembunyi di dalam tubuh, dan itulah sebabnya batuk serta sesak napas juga lebih sering ditemukan pada kelompok ini,” tambah Prof. Erlina.

Temuan tersebut kemudian menggambarkan pola hubungan berbentuk huruf U. Artinya, keluhan pernapasan cenderung lebih rendah pada orang yang memiliki durasi tidur cukup, tetapi meningkat pada kelompok yang tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama.

“Jadi, gejala pernapasan paling jarang muncul pada mereka yang tidurnya cukup, lalu meningkat pada dua sisi ekstremnya, yaitu yang terlalu sedikit dan yang terlalu banyak. Pola inilah yang dalam studi tersebut disebut pola U, rendah di tengah dan naik di kedua ujungnya,” papar dia.*