Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Harga emas dunia dan logam mulia diprediksi masih terus berfluktuasi, dipengaruhi oleh berbagai sentimen global. Pada pekan depan, harga emas diperkirakan bergerak di kisaran Rp 2,8 juta-Rp 2,98 juta per gram.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, harga emas dunia berada di level 4.708 dolar AS per troy ons. Sedangkan harga logam mulia berada pada posisi Rp 2,845 juta per gram.
Ia memprediksi, jika harga emas turun, level support pertama harga emas dunia yakni sebesar 4.651 dolar AS per troy ons. Adapun harga logam mulia yakni Rp 2,8 juta per gram. Level support kedua harga emas dunia 4.520 dolar AS per troy ons dan logam mulia Rp 2,79 juta per gram.
"Apabila harga emas naik, kemungkinan besar (level resisten pertama) 4.779 dolar AS per troy ons, dan logam mulianya di Rp 2,865 juta per gram. Kemudian, kalau seandainya naik, resisten kedua yaitu di 4.232 dolar AS per troy ons, dan logam mulianya di Rp 2,98 juta per gram," ujar Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan, Ahad (26/4/2026) yang dimuat Republika.
Prediksi tersebut seiring dengan proyeksi bakal menguatnya pergerakan indeks dolar AS dan harga minyak dunia. Indeks dolar AS pada akhir pekan ini ditutup pada posisi 96,60. Menurut prediksi untuk pekan depan, level resisten indeks dolar AS yakni 102,50.
Adapun harga minyak dunia, Ibrahim memprediksi harga crude oil sebesar 82,60 dolar AS per barel dan bisa bergerak naik menuju 107,4 dolar AS per barel.
Empat Faktor
Ibrahim berpandangan ada beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas yang fluktuatif. Begitu juga dengan harga minyak dunia dan indeks dolar AS. Faktor-faktor tersebut yakni geopolitik di Timur Tengah, perpolitikan di AS, kebijakan Bank Sentral AS, dan faktor permintaan dan penawaran (demand and supply).
"Berbicara tentang geopolitik, kemungkinan besar minggu depan AS menginginkan pertemuan kembali antara AS dengan Iran di Pakistan. Walaupun Trump sendiri mengatakan siap untuk menghancurkan kapal-kapal Iran di Laut Selat Hormuz, tetapi di sisi lain pun juga Trump mengatakan akan melakukan gencatan senjata permanen dengan Iran," ujar Ibrahim.
Sementara itu, Iran sendiri tidak mau melakukan pertemuan karena AS melanggar gencatan senjata, yaitu dengan melakukan penangkapan terhadap kapal tanker Iran. Kemudian Israel juga masih terus melakukan penyerangan terhadap Lebanon Selatan.
"Ini yang membuat satu ketegangan tersendiri. Iran sendiri mengatakan siap untuk perang, artinya minggu depan atau akhir April ini cukup krusial," ungkapnya.
Dampak Perang
Konflik di Timur Tengah memang menjadi faktor menonjol karena berhubungan dengan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia. Iran diketahui kembali menutup Selat Hormuz, berimbas mengerek harga minyak dunia hingga melambung tinggi, dan akhirnya berpotensi memberi dampak terhadap inflasi.
"Yang kedua adalah perpolitikan di AS. Kita tahu bahwa Trump telah mencopot pejabat di militer, terutama adalah Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan Laut. Tujuannya adalah untuk menggantikannya dengan pemimpin-pemimpin baru yang lebih fokus dan loyal terhadap Presiden," terangnya.
Trump melakukan reshuffle tersebut dengan orang-orang baru yang lebih pro dengannya. Hal itu tidak terlepas dari dinamika peperangan dengan Iran. Sebab, Trump menginginkan jika seandainya gagal dalam perundingan gencatan senjata, AS akan melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz.
"Ini berarti genderang perang akan dilakukan oleh AS. Dan ini akan membuat ketegangan tersendiri," tuturnya.
Faktor ketiga yakni mengenai arah kebijakan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve. Pada akhir April 2026 ini akan ada pergantian kepemimpinan Bank Sentral AS, dari Jerome Powell ke pemimpin baru yang ditunjuk oleh Trump, yakni Kevin Warsh.
"Kevin Warsh sendiri kemungkinan akan mengikuti gerak langkah yang diinginkan oleh Trump. Tetapi pada saat nanti harga minyak naik, inflasi tinggi, tidak mungkin Kevin Warsh akan menurunkan suku bunga, pasti akan mempertahankan suku bunga dan meningkatkan suku bunga," terangnya.
Di sisi lain, Kevin Warsh diketahui memberi pernyataan bahwa Bank Sentral AS independen. Artinya, nanti pada saat menduduki jabatan sebagai gubernur Bank Sentral AS, tidak akan ada intervensi dari pemerintah. Ibrahim menilai dinamika tersebut menjadi menarik dan kemungkinan besar akan membuat kegaduhan tersendiri di Bank Sentral AS.
"Faktor keempat yakni masalah supply and demand. Kita tahu bahwa negara-negara anggota BRICS sudah kembali memupuk, membeli emas logam mulia sebagai cadangan devisanya. Karena apa? Karena kita lihat bahwa negara-negara anggota BRICS tahu kemungkinan besar perang ini akan panjang, sehingga pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan terbaik bagi negara-negara bank sentral anggota BRICS untuk memupuk kekayaannya dengan membeli logam mulia," jelasnya.