BBKSDA Riau Evakuasi Harimau Berbobot 90 Kg dalam Kondisi Terjerat di Area RAPP Group

26 Maret 2019
Proses evakuasi harimau oleh tim gabungan

Proses evakuasi harimau oleh tim gabungan

RIAU1.COM -Tim medis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan petugas pusat rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya (PR-HSD) mengevakuasi seekor harimau sumatera berjenis kelamin jantan dengan bobot seberat 90 kilogram.

Harimau tersebut diselamatkan, setelah terkena jeratan yang melukai kakinya, di mana sudah menunjukkan tanda infeksi. Si belang ini, ditemukan terjerat di wilayah restorasi ekosistem, yang juga masuk wilayah kerja PT Gemilang Cipta Nusantara (RAPP Group) di Desa Sangar, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.

Keberadaan harimau sumatera ini pertama kali diketahui dari laporan pihak perusahaan tersebut, Jumat 22 Maret 2019 sore sekitar pukul 15.00 WIB. Dari sana, tim pun diturunkan.

"Akses ke sana sulit dan jarak tempuhnya cukup jauh memakan waktu sekitar 11 jam. Tim pengamanan turun terlebih dahulu, melakukan observasi di sekitar lokasi. Berkoordinasi dengan pihak perusahaan, aparat setempat dari Polri dan TNI," kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, Selasa 26 Maret 2019.

Kemudian, BBKSDA Riau menurunkan tim lainnya yang terdiri dari lima orang dokter hewan, satu orang paramedis, termasuk tim dari Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD). "Mereka sampai di lokasi pada Sabtu pagi," lanjut dia.

Tim pun bergerak cepat. Harimau ini kemudian dibius lalu diangkat menggunakan tandu. "Kita pertimbangkan, melihat kondisi satwa yang juga semakin memburuk, karena diperkirakan sudah terjerat tiga sampai empat hari," katanya.

Tim harus kembali menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, lalu menyusuri kanal dengan sampan yang dilengkapi mesin. Sepanjang perjalanan, harimau tersebut diberikan bius, hingga akhirnya sampai kembali di darat.

"Harimau Sumatera kemudian dimasukkan ke dalam kandang transit dan dilakukan observasi lanjutan. Terutama untuk pengobatan kakinya yang terluka parah karena terkena jerat dan sudah infeksi. Sudah dikerubungi lalat," yakin Suharyono.

Penanganan hidrasi juga dilakukan, yang bertujuan menambah asupan air ke dalam tubuh harimau untuk menghindari dehidrasi. Kini harimau yang usianya ditaksir sekitar tiga sampai empat tahun ini dititipkan di PR-HSD di Dharmasraya untuk menjalani perawatan yang lebih intensif.

Suharyono memastikan, jeratan yang mengenai harimau itu, memang merupakan jerat untuk si belang, bukan hewan lain, misalnya babi. "Jerat ini memang khusus untuk harimau. Kalau jerat babi biasanya bentuk lingkaran dipasang vertikal," sambungnya.

"Kalau babi masuk jerat maka lehernya terjerat, memang untuk membunuh babi. Tapi ini memang jerat khusus kaki harimau tidak untuk membunuh. Slingnya juga ukurannya lebih besar," beber dia.