Upaya pemadaman lahan yang terbakar
RIAU1.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, masih terus terjadi. Kondisi tersebut membuat tim gabungan meningkatkan kekuatan personel dan peralatan untuk mempercepat pemadaman di kawasan yang didominasi lahan gambut tersebut.
Kepala Badan Penanggupangan Bencana Daerah (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau, Edi Afrizal, mengatakan, tambahan personel dikerahkan secara bertahap untuk memperkuat upaya pemadaman di lapangan.
Hari ini, sebanyak 15 personel dari BPBD dam Damkar Riau sudah berada di lokasi Karhutla. Kemudian Manggala Agni mengirimkan dua regu ke lokasi. Sebanyak 12 personel berasal dari Daops Rengat dan 13 personel merupakan regu BKO Daops Siak. Sementara itu, tambahan personel kembali diberangkatkan besok.
“Besok kita tambah lagi satu regu dari Daops Rengat sebanyak 12 orang. Selain itu, ada 30 personel dari Polda Riau, 20 personel dari Kodam,” kata Edi, Sabtu (22/8/26).
Tambahan para personil gabungan tersebut akan bersatu pada dengan tim darat yang terlebih dahulu bertukus lumus melakukan pemadaman karhutla di Kerumutan Pelalawan.
Ada pun mengenai luasan lahan terbakar, berdasarkan data dua hari sebelumnya, luas lahan yang terbakar di Kerumutan telah mencapai sekitar 270 hektare. Namun, luasan tersebut diperkirakan terus bertambah karena hingga kini masih terdapat titik api yang belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
“Waktu peninjauan lokasi (dua hari lalu), luas karhutla di Kerumutan sekitar 270 hektare. Karena sampai sekarang masih ada kebakaran, tentu luasan yang terbakar kemungkinan lebih luas lagi,” ujarnya.
Ia menegaskan, tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD Riau, BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya terus melakukan upaya pemadaman.
Edi menjelaskan, proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya angin kencang yang membuat api mudah menyebar dan menyulitkan petugas mengendalikan kobaran api.
Selain itu, kondisi vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan yang masih cukup rapat turut memperbesar tantangan pemadaman. Sumber air juga sulit ditemukan, sementara lokasi kebakaran berada cukup jauh dari akses darat.
“Kesulitan kita memadamkan api karena anginnya kencang. Kemudian di lokasi banyak semak belukar dan pepohonan, sumber air juga sulit. Akses menuju lokasi cukup jauh, sekitar 500 meter dari akses yang bisa dilalui kendaraan,” jelas Edi.
Bahkan, kendaraan roda empat tidak dapat mencapai titik kebakaran. Petugas terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menjangkau lokasi.
Selain pemadaman melalui jalur darat, penanganan karhutla di Kerumutan juga diperkuat melalui operasi udara. Hari ini, sebanyak empat helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air ke titik-titik kebakaran.
Namun, Edi mengakui, operasi water bombing belum dapat memadamkan seluruh areal yang terbakar. Helikopter lebih efektif untuk menekan dan memblokir bagian kepala api agar tidak semakin meluas.
“Water bombing memang bisa kita gunakan untuk memblokir kepala api. Tetapi untuk memadamkan seluruh api cukup sulit karena dipengaruhi angin dan kondisi lahan,” katanya.
Kondisi lahan gambut yang kering juga menjadi persoalan tersendiri. Api yang terlihat padam dari udara belum tentu benar-benar mati karena bara api dapat tetap menyala di bawah permukaan gambut.
“Sekarang kondisi lahan gambut sangat kering. Ketika kita lakukan water bombing dan dari atas terlihat api sudah padam, sebenarnya di dalam gambut masih bisa terdapat bara api yang menyala,” ungkapnya.*
