Dari Mie Sagu hingga Pemasaran Digital, PHR Dorong UMKM Naik Kelas

20 September 2026
PHR memberikan pelatihan Food Safety atau keamanan pangan serta penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) pada 29 Juli lalu. Foto: Istimewa.

PHR memberikan pelatihan Food Safety atau keamanan pangan serta penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) pada 29 Juli lalu. Foto: Istimewa.

RIAU1.COM -Bagi Yusnidar (53), mengembangkan usaha bukan sekadar menghasilkan produk. Lebih dari itu, produk yang dibuat harus mampu memenuhi standar, dikenal lebih luas, serta memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Pemikiran tersebut menjadi semangat Yusnidar bersama lima anggota Kelompok UMKM PKK Buluh Kasap dalam mengembangkan berbagai produk olahan berbasis sagu, termasuk mi sagu yang mempertahankan cita rasa khas Selatpanjang. Di tengah peluang pasar yang terbuka, perjalanan mengembangkan usaha tidak selalu mudah. Pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pemahaman mengenai keamanan pangan, pemenuhan legalitas usaha, hingga perluasan akses pasar.

"Keinginan kami tentu produk ini bisa dikenal lebih luas dan masuk ke pasar yang lebih besar. Namun, kami masih menghadapi keterbatasan pengetahuan mengenai food safety, legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), SPP-IRT, hingga sertifikasi halal," ujar Yusnidar.

Tantangan serupa dirasakan Syamairawati (45), Ketua Kelompok UMKM Jacoline Berseri. Kelompoknya telah mengembangkan berbagai produk olahan, tetapi pemasaran masih banyak dilakukan secara konvensional. Selama ini, produk tersebut dipasarkan dengan cara dititipkan di rumah oleh-oleh, pedagang bakso, maupun penjual mi ayam.

"Kami percaya produk yang kami hasilkan memiliki kualitas dan mampu bersaing. Tantangannya adalah bagaimana memperkenalkan produk tersebut kepada pasar yang lebih luas. Kami masih membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengoptimalkan pemasaran melalui media digital," katanya.

Melihat potensi sekaligus tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program Community Involvement and Development (CID) mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing UMKM. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan mutu produk, keamanan pangan, legalitas, hingga perluasan akses pasar.

Bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dumai, PHR memberikan pelatihan Food Safety atau keamanan pangan serta penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) pada 29 Juli lalu. Pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman pelaku UMKM mengenai proses produksi pangan yang aman dan sesuai standar. Dengan demikian, kualitas produk diharapkan dapat terjaga secara konsisten.

Penguatan kapasitas pelaku UMKM juga dilakukan melalui pelatihan Digital Marketing. Para pelaku usaha dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi, membangun branding, sekaligus memperluas jangkauan konsumen.

Tidak hanya dari sisi pengetahuan, PHR juga memberikan dukungan sarana dan prasarana produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Dukungan tersebut diberikan kepada Kelompok UMKM PKK Buluh Kasap dan Kelompok UMKM Jacoline Berseri untuk membantu meningkatkan kapasitas dan efektivitas proses produksi.

Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya PHR mendorong pengembangan UMKM secara lebih komprehensif. Penguatan tidak hanya dilakukan pada aspek produksi, tetapi juga mencakup standar mutu, keamanan pangan, legalitas, pemasaran, dan kapasitas usaha. Bagi Yusnidar dan Syamairawati, peningkatan kapasitas tersebut membuka peluang baru bagi produk lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

"Harapan kami, setelah mengikuti pelatihan ini, kami tidak hanya bisa menghasilkan produk yang enak, tetapi juga aman, memiliki legalitas, dan semakin dikenal masyarakat. Semoga ke depan produk kami bisa dipasarkan lebih luas," ujar Yusnidar.

PHR terus mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional melalui pengembangan kapasitas dan penguatan potensi ekonomi lokal. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian pelaku UMKM, memperkuat daya saing produk lokal, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, pengembangan UMKM diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan produksi. UMKM dapat berkembang menjadi ekosistem usaha yang semakin mandiri, adaptif, dan berdaya saing.