Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti peluang besar pengelolaan sampah organik dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pengelolaan sampah organik ini merupakan sebagai solusi atas persoalan penumpukan sampah, sekaligus sumber nilai ekonomi baru.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya di Pekanbaru, beberapa waktu lalu, mengatakan, sampah makanan yang dihasilkan SPPG tidak seharusnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Melainkan, sampah makanan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku budidaya maggot. Dalam praktiknya, sampah makanan dari SPPG sudah mulai dimanfaatkan oleh peternak dan pembudidaya maggot untuk pakan ternak.
“Sampah makanan dari SPPG sangat potensial untuk maggot. Bahkan, sudah ada peternak bebek dan pembudidaya yang memanfaatkannya,” ungkapnya.
Jika sampah organik rumah tangga dikelola dengan pendekatan serupa, maka persoalan TPA dapat diminimalkan, bahkan dihilangkan. Sony mencontohkan diskusinya dengan Bupati Purwakarta mengenai kemungkinan menciptakan daerah tanpa TPA melalui pengelolaan sampah berbasis sumber.
Pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup, melainkan juga memerlukan keterlibatan lintas sektor, seperti Dinas Peternakan, Perikanan, dan Pertanian. Sinergi antarinstansi tersebut dinilai penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah organik.
“Maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, seperti ayam, ikan, dan bebek. Ini dapat menekan biaya produksi peternak. Penggunaan maggot hingga 40 persen mampu mengurangi biaya pakan secara signifikan tanpa mengganggu produktivitas ternak," sebut Sony.
Ia berharap program MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat. Tetapi, program ini juga mampu mengubah kebiasaan dalam pengelolaan sampah menjadi lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.
“Dengan pengelolaan yang terintegrasi, tidak lagi bergantung pada TPA ke depan. Sampah justru menjadi sumber daya yang bermanfaat,” pungkasnya.