PGRI Bertanya-tanya soal Taruna Akmil Dilibatkan Latih Siswa Sekolah Rakyat

1 Juli 2026
Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi

Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi

RIAU1.COM - Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi menilai pelibatan guru dalam kegiatan pendidikan di Sekolah Rakyat akan lebih tepat dibanding pihak di luar profesi pendidik. Hal tersebut menanggapi, penugasan seribu taruna Akademi Militer (Akmil) untuk melatih siswa-siswa Sekolah Rakyat (SR).

Meski mengaku belum membaca detail kebijakan tersebut, Unifah menekankan guru memiliki kompetensi yang memang dipersiapkan untuk mendidik dan mengembangkan potensi peserta didik.

“Saya belum baca beritanya, tapi aku berharap, kan guru banyak. Kalau dilakukan sama guru jauh lebih baik daripada orang lain yang belum tentu kompetensinya,” kata Unifah saat dihubungi Republika, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, proses pendidikan membutuhkan pemahaman pedagogi yang menjadi dasar dalam kegiatan belajar mengajar. Ia menilai keterlibatan guru tetap perlu menjadi prioritas dalam penyelenggaraan pendidikan karena tenaga pendidik memiliki kompetensi untuk mendampingi perkembangan dan proses belajar anak.

“Ngerti tentang pedagogi, tapi pengerahan itu saya belum tahu yang pasti ya. Mengarahkan guru kerja pasti lebih baik ya, karena memang dididik untuk mengembangkan potensi anak didik gitu ya,” katanya.

Sebelumnya Kementerian Sosial (Kemensos) menyampaikan kerja sama dengan TNI. Di antaranya bakal mengerahkan sekitar seribu taruna Akmil tingkat I dan II untu mendampingi siswa di 178 titik Sekolah Rakyat (SR).

Program bimbingan keasramaan tersebut akan berlangsung selama lima hari di setiap lokasi, mulai 3 hingga 8 Agustus 2026. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan pelibatan para taruna bukan untuk menggantikan peran guru di ruang kelas, melainkan memberikan pendampingan kepada siswa dalam kehidupan berasrama.

"Tujuannya membantu anak-anak yang tinggal di asrama agar lebih mandiri. Mereka akan dibimbing melakukan hal-hal sederhana, seperti merapikan lemari, merapikan tempat tidur, hingga membiasakan kerapian dalam berseragam," ujar Agus Jabo dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, para taruna akan berperan sebagai pembimbing kehidupan asrama sehingga para siswa dapat beradaptasi dengan lingkungan baru secara nyaman, meski harus tinggal jauh dari keluarga.

"Taruna tidak mengajar di kelas seperti guru. Mereka memberikan bimbingan di asrama agar anak-anak Sekolah Rakyat dapat tinggal dengan tenang dan nyaman walaupun tidak tinggal satu rumah dengan keluarganya. Mereka juga memberikan pembinaan agar tidak terjadi segala bentuk kekerasan, termasuk perundungan atau kekerasan dari kakak kelas kepada adik kelas," kata Agus Jabo.

Ia mengklaim pelaksanaan program tersebut memiliki dasar hukum yang jelas. Agus merujuk Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrim.

Agus menyebut dipilihnya taruna Akmil didasarkan pada pengalaman mereka dalam menjalani kehidupan berasrama. Sehingga mereka dinilai mampu membimbing para siswa dengan pendekatan yang tepat.

"Kenapa taruna? Karena mereka yang memahami bagaimana hidup di asrama. Pengalaman itu yang ingin ditularkan kepada anak-anak Sekolah Rakyat agar mereka cepat beradaptasi dan memiliki karakter yang mandiri," ujar Agus.

Dalam pelaksanaannya, setiap titik Sekolah Rakyat akan didampingi lima personel taruna secara intensif. Materi bimbingan meliputi berbagai keterampilan dasar kehidupan sehari-hari, seperti menyetrika seragam, merapikan seprei dan lemari pakaian, menyemir sepatu, hingga membangun kebiasaan hidup mandiri di asrama.*