Ilustrasi (Foto: Istimewa/internet)
RIAU1.COM - Setelah Indonesia terlepas dari penjajah, republik ini menggunakan kurs tetap. Alasannya karena tidak memiliki cadangan emas untuk menjaga nilai mata uangnya.
Serta terbatasnya cadangan devisa ditambah uang yang beredar saat itu begitu banyak membuat Indonesia menerapkan sistem ini dinukil dari historia.id, Minggu, 29 Maret 2020.
Belum lagi Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) atau rupiah harus bersaing dengan mata uang Hindia Belanda dan Jepang.
Ditambah belum adanya perdagangan valuta asing membuat masalah baru bagi republik yang beru berusia seumur jagung.
Diperparah dengan perang yang berkecamuk selama periode revolusi (1945–1949), merusak stabilitas ekonomi, menyebabkan gangguan produksi, distribusi, perdagangan, dan menghantam aktivitas ekonomi lainnya.
Hasilnya harga barang menjadi mahal, inflasi naik. Membuat nilai tukar ORI begitu tinggi yang pelan-pelan membuat harga barang ekspor menjadi amat mahal.
Kondisi seperti ini membuat Indonesia mengaitkan nilai mata uangnya kepada dolar AS atau menerapkan sistem nilai tukar tetap untuk mempermudah transaksi.
Contohnya untuk di Pulau Jawa dan Madura ditetapkan f.50 (uang Jepang) sama dengan uang satu rupiah ORI, sedangkan bagi daerah di luar Pulau Jawa dan Madura: f.100 (uang Jepang) disamakan dengan satu rupiah ORI.