Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Kabut asap kiriman diduga dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai menyelimuti Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri).
Kabut asap yang terbawa angin tersebut disebut semakin tebal sejak pekan lalu. Kondisi itu mulai mengganggu aktivitas warga, terutama nelayan yang harus beraktivitas di laut.
Camat Tambelan Asmawi mengatakan kabut asap membuat jarak pandang di sejumlah wilayah menjadi terbatas. Kondisi tersebut terpantau di kawasan bandara, Pelabuhan Sri Bentayan Tambelan hingga perairan sekitar.
“Jarak pandang sangat pendek, baik di bandara, Pelabuhan Sri Bentayan Tambelan, maupun di laut, semuanya tertutup kabut asap tebal. Kondisi ini sudah kami laporkan ke kepala daerah,” kata Asmawi yang dimuat Batampos.
Menurut Asmawi, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena saat ini perairan Tambelan juga menghadapi gelombang tinggi dan angin kencang.
Kabut asap yang menurunkan jarak pandang dinilai dapat meningkatkan risiko kecelakaan bagi nelayan. Mereka berpotensi kesulitan menentukan arah ketika berada jauh dari daratan.
“Kami minta nelayan waspada di laut. Kabut asap tebal ini rawan dan bisa bikin mereka kehilangan arah di tengah laut,” ujarnya.
Asmawi meminta nelayan Tambelan lebih berhati-hati sebelum maupun saat melaut. Kombinasi jarak pandang yang terbatas, gelombang tinggi dan angin kencang dapat meningkatkan risiko keselamatan di perairan.
Fenomena asap yang terbawa angin dari sumber kebakaran memang memungkinkan wilayah yang terdampak berada jauh dari titik api. Pergerakan asap dipengaruhi arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer.
Karena itu, pemerintah kecamatan meminta nelayan mempertimbangkan kondisi perairan dan jarak pandang sebelum memutuskan melaut.
Selain mengingatkan nelayan, pemerintah Kecamatan Tambelan meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan.
Asmawi mengatakan sosialisasi pencegahan karhutla telah dilakukan. Spanduk berisi imbauan larangan membakar hutan dan lahan juga telah dipasang di sejumlah lokasi.
“Spanduk-spanduk imbauan larangan karhutla juga sudah kami sebar jauh-jauh hari,” katanya.
Pemerintah berharap masyarakat ikut mencegah munculnya titik api agar persoalan kabut asap tidak semakin meluas dan mengganggu aktivitas warga.
Kabut asap yang muncul di Tambelan sebelumnya juga telah menjadi perhatian karena wilayah tersebut berada di kawasan kepulauan yang cukup dekat dengan jalur pergerakan udara dari Kalimantan.*
