Muncul Kelompok Katolik Pembangkang Paus Leo XIV

2 Juli 2026
Paus Leo XIV

Paus Leo XIV

RIAU1.COM - Vatikan kini geger dengan kelompok Katolik yang "memberontak" ke Paus Leo XIV. Hal ini terkait kemunculan empat uskup baru yang memisahkan diri dan menganut misa Latin kuno.

Mengutip Reuters, Kamis (2/7/2026), mereka ditahbiskan di Swiss barat daya Rabu, dengan dihadiri ribuan orang. Hal itu pun mengabaikan seruan pribadi yang disampaikan melalui surat oleh Paus Leo XIV.

"Ribuan orang hadir untuk menyaksikan penahbisan para uskup dari Serikat Santo Pius X di desa kecil Alpen, Econe dua hari setelah permohonan pribadi dari Paus," muat laman tersebut yang dimuat CNBCIndonesia.com.

Sebenarnya hukum gereja menegaskan hanya Paus yang memiliki otoritas sah untuk menyetujui konsekrasi uskup baru demi menjaga garis suksesi para rasul Yesus. Vatikan sendiri telah mengeluarkan draf peringatan keras.

Dikatakan bahwa pentahbisan tanpa persetujuan kepausan otomatis berkonsekuensi menimbulkan ekskomunikasi, baik bagi orang yang ditahbiskan maupun uskup yang memimpin upacara. Ini adalah sanksi keagamaan yang memutus atau membatasi hubungan seseorang dengan komunitas agama karena melakukan pelanggaran yang dianggap sangat serius.

"Saya memohon kepada Anda dan meminta dengan sepenuh hati: tolong kembalilah!" tulis Leo dalam suratnya pada hari Senin.

"Ini tindakan skismatik," tambahnya menyebut hal itu adalah upaya ,emisahkan diri dari otoritas atau struktur Gereja.

Siapa Kelompok Pembangkang Itu?

Masih merujuk laman yang sama, pembangkangan tersebut datang dari kelompok ultra-tradisionalis, Serikat Santo Pius X. Mereka menolak ajaran utama Konsili Vatikan Kedua, sebuah pertemuan penting para uskup Vatikan pada tahun 1960-an yang bertujuan memperbarui kehidupan gereja agar mampu menjawab tantangan dunia modern.

Serikat Santo Pius X didirikan Uskup Agung Marcel Lefebvre. Serikat ini menyatakan memiliki 733 imam di seluruh dunia, hal yang membuatnya tegang dengan Vatikan.

Uskup Agung Marcel Lefebvre sendiri diekskomunikasi pada tahun 1988 setelah menahbiskan empat uskup tanpa izin dari Paus Yohanes Paulus II saat itu.

Saat era Paus Benediktus XVI, penerus Yohanes Paulus, berupaya memperbarui dialog dan mencabut empat ekskomunikasi yang tersisa.

Kepemimpinan saat ini mengumumkan pada bulan Februari bahwa mereka berencana untuk menahbiskan uskup baru pada bulan Juli, tanpa persetujuan Vatikan. Alasannya mereka perlu lebih banyak prelatus untuk memimpin serikat tersebut.*