Benarkah Makan Sambil Nonton Bikin Otak Jadi 'Lemot'?

23 Oktober 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Makan sambil menonton serial favorit atau menggulir media sosial sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Rasanya, makan jadi lebih menyenangkan karena ada tontonan yang menemani. Tahu-tahu, makanan di piring sudah habis, padahal perhatian lebih banyak tertuju pada layar.

Kebiasaan ini kerap dianggap kerap bikin otak jadi kurang fokus, bahkan disebut bisa membuat seseorang lebih lambat berpikir alias 'lemot'. Benarkah demikian?

CNNIndonesia mengutip penelitian dalam The American Journal of Clinical Nutrition 2026, makan sambil terdistraksi dapat memengaruhi pola konsumsi seseorang. Peneliti menganalisis gangguan pasif, seperti menonton televisi, jumlah makanan yang dikonsumsi saat itu cenderung lebih tinggi. Kebiasaan ini juga berkaitan dengan peningkatan asupan energi pada kesempatan makan berikutnya.

Ini menunjukkan bahwa perhatian yang terbagi saat makan dapat memengaruhi cara seseorang memproses dan mengingat informasi.

Ketika fokus lebih banyak tertuju pada tontonan, seseorang bisa menjadi kurang menyadari aktivitas makannya. Hal ini dapat membuat proses memperhatikan dan mengingat makanan yang dikonsumsi menjadi kurang optimal.

Saat makan, seseorang tidak hanya mengunyah dan menelan. Otak juga memproses berbagai informasi, mulai dari rasa, aroma, tekstur, hingga jumlah makanan yang sudah dikonsumsi.

Ketika perhatian terbagi antara makanan dan tontonan, sebagian perhatian tertuju pada informasi dari layar. Akibatnya, pengalaman makan mungkin tidak tersimpan sejelas ketika seseorang benar-benar memperhatikan makanannya.

Hal ini berkaitan dengan ingatan terhadap makanan. Jika seseorang tidak terlalu menyadari apa dan berapa banyak yang dimakan, ia mungkin lebih sulit mengingat pengalaman makan tersebut. Ingatan itu dapat ikut memengaruhi penilaian apakah dirinya sudah cukup makan atau masih ingin mengonsumsi makanan lain.

Penelitian juga menemukan hubungan antara ingatan makan dan camilan berikutnya. Mengutip jurnal Appetite, peserta yang memusatkan perhatian pada makanan dapat mengingat pengalaman makan siangnya dengan lebih jelas. Mereka juga mengonsumsi lebih sedikit biskuit pada sesi camilan berikutnya dibandingkan kelompok yang menjalani kondisi lain.

Peneliti turut menemukan bahwa ingatan yang lebih jelas terhadap makanan yang telah dikonsumsi berkorelasi dengan konsumsi camilan yang lebih rendah.

Artinya, kemampuan mengingat pengalaman makan berkaitan dengan seberapa banyak seseorang mengonsumsi makanan pada kesempatan berikutnya.

Jadi, apakah makan sambil menonton membuat otak lemot?

Penelitian mengenai media multitasking, yakni kebiasaan menggunakan atau memperhatikan beberapa media secara bersamaan, memang turut membahas kaitan antara aktivitas tersebut dan fungsi kognitif. Salah satunya adalah studi Parry dan le Roux yang membahas media multitasking dan kontrol kognitif.

Namun, hasil penelitian dalam bidang ini beragam. Temuan mengenai hubungan antara media multitasking dan aspek kontrol kognitif juga tidak otomatis membuktikan bahwa makan sambil menonton menyebabkan penurunan kemampuan berpikir, tapi punya pengaruh.

Penjelasan yang lebih sesuai dengan bukti adalah bahwa perhatian yang terbagi dapat memengaruhi kesadaran dan ingatan terhadap pengalaman makan, yang kemudian mungkin berkaitan dengan pola konsumsi berikutnya.

Jadi, jika sesekali ingin menikmati serial favorit sambil makan, hal itu tidak perlu langsung dianggap merusak fungsi otak. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kebiasaan tersebut membuat kita kurang menyadari makanan yang dikonsumsi dan sinyal tubuh sendiri.*