Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Keselamatan pelajar harus menjadi prioritas di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti Kota Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar). Ketua DPRD Kota Padang Muharlion meminta Pemko Padang tidak ragu meliburkan sekolah dan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) apabila kabut asap mulai membahayakan kesehatan siswa.
“Yang kita kasihan itu pelajar. Jika kabut asap membahayakan, terpaksa kita minta pemko untuk meliburkan sekolah, dan pembelajaran dilaksanakan secara pembelajaran jarak jauh (PJJ),” tegas Muharlion, Rabu (7/10) yang dimuat Hariansinggalang.
Menurutnya, pemerintah tidak perlu menunggu kondisi semakin parah untuk mengambil langkah perlindungan terhadap siswa. Kebijakan PJJ dapat menjadi pilihan sementara apabila kualitas udara tidak lagi aman bagi aktivitas belajar di luar ruangan.
Pernyataan Muharlion itu disampaikan menyusul kembali munculnya kabut asap di Kota Padang dan sejumlah wilayah Sumbar. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap tidak hanya berasal dari titik panas di dalam Sumbar, tetapi juga terbawa angin dari wilayah lain.
Ketua Tim Publikasi dan Diseminasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, mengatakan pemantauan terakhir menunjukkan hanya terdapat satu titik panas di Sumbar, yakni di Dharmasraya. Sementara titik panas yang signifikan terpantau di Sumatera Selatan dan Jambi.
“Untuk di Sumbar pantauan terakhir terdapat hotspot hanya satu lokasi di Dharmasraya, sedangkan untuk titik panas signifikan terpantau di Sumsel dan Jambi, dengan arah angin dari tenggara yang menjadi sumber utama asap,” kata Yudha, Rabu (7/10/2026).
Yudha menjelaskan, arah angin sangat menentukan penyebaran asap. Asap dari wilayah Sumsel dan Jambi dapat terbawa menuju Sumbar sehingga memengaruhi kondisi udara di sejumlah daerah, termasuk Kota Padang.
“Ya, arah angin sangat menentukan dalam sebaran kabut asap,” ujarnya.
BMKG menyebut kualitas udara saat ini berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Masyarakat pun diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kondisi udara memburuk.
“Untuk kualitas udara memang berada dalam kategori sedang-tidak sehat sehingga sangat diimbau menggunakan masker bila berada di luar ruangan,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, BMKG terus memberikan informasi mengenai potensi karhutla kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan. Bagi Muharlion, keselamatan siswa tidak boleh menjadi taruhan ketika kualitas udara sudah berpotensi membahayakan kesehatan.
“Kami selalu memberikan informasi potensi karhutla di Sumbar sebagai bahan pertimbangan kebijakan di Sumatera Barat,” tutur Yudha.*