Dulu Menjanjikan Kini Menyedihkan, LBH Pekanbaru Buka Posko Peduli Sungai Siak

1 Agustus 2019
Peluncuran Posko Masyarakat dan Nelayan Peduli Sungai Siak

Peluncuran Posko Masyarakat dan Nelayan Peduli Sungai Siak

RIAU1.COM - Sungai Siak yang dahulunya merupakan sungai yang indah dan kaya akan biota airnya, kini hanya tinggal cerita. Kondisi Sungai Siak kini semakin memprihatinkan. Selain sampah yang menggrogoti sungai, air yang dulunya jernih kini telah tercemar limbah, sehingga nelayanpun sulit mendapatkan ikan.

Hal ini dinilai Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru, akan perlunya langkah nyata untuk segera menyelamatkan Sungai Siak. Salah satu upayanya, merangkul nelayan untuk berdiskusi tentang Sungai Siak Bersih dan peluncuran Posko Masyarakat dan Nelayan Peduli Sungai Siak.

Bertempat di Kafe Kopikirapa, Jalan Kuau, pertemuan dan diskusi itu berlangsung dengan pemateri, stakeholder, WWF Central Sumatera Ratna Dewi, nelayan Sungai Siak Atan Keok dan dari LBH Pekanbaru Andi Wijaya, Selasa 30 Juli 2019.

Selaku nelayan, Atan menyampaikan kondisi Sungai Siak sudah sangat miris jika digunakan atau dimanfaatkan airnya. Bahkan beberapa warga jika menyentuh air tersebut terkena gatal-gatal dan hal ini sangat berbeda dengan semasa ia kecil.

"Dulu waktu saya masih kecil, air di sungai itu masih jernih, kapal-kapal besarpun banyak melintas dan ikan-ikan juga masih banyak," ungkapnya.

Ia sangat mengesalkan jauhnya perubahan sungai yang begitu indah di bumi Lancang Kuning itu. Besar harapannya kepada pihak pihak terkait agar mengembalikan kondisi sungai Siak seperti dahulu.

"Semoga dari WWF, LBH dan yang hadir di sini agar dapat membantu memulihkan Sungai Siak dari banyaknya sampah di dalam Sungai. Sehingga, kejernihan sungai yang dirindukan itu bisa kembali dijadikan prioritas oleh nelayan," harapnya.

Stakeholder Engagement WWF Riau, Ratna Dewi mengatakan, dulu rumah-rumah warga dibangun menghadap ke sungai, namun kini rumah dibangun memunggungi sungai, begitu juga dengan bayi, dulunya warga berbondong-bondong memandkan bayinya ke sungai, namun kini tak ada yang berani memandikan bayi kesungai karena takut bayinya terkena gatal-gatal.

"Mengenai hal ini, Sebenarnya banyak lembaga yang bekerja di sungai seperti Kementerian PUPR punya BWS tetapi mereka hanya mengurusi infrastrukturnya. KLHK punya BPDAS, tetapi hanya mengurusi daerah di aliran sungainya. Pemprov, pemko, pemkab itu hampir tidak ada yang menjadikan sungai sebagai arus utama dari lokus konservasi," terangnya.

Paparnya, sejak peta sungai pertama yang dibuat oleh Emmarsdem, ahli geografi Belanda dan penulis Sejarah Sumatera pada tahun 1873, sampai hari ini Indonesia belum punya database yang akurat tentang sungai. Dari situlah yang memperlihatkan begitu buruknya tata kelola di Indonesia saat ini.

"Riau memiliki empat sungai besar sekaligus yaitu Sungai Rokan, Sungai Indragiri, Sungai Siak dan Sungai Kampar. Kita harus bangga dengan Provinsi Riau yang berkelimpahan tentang sumber daya air, namun sangat disayangkan, ke 4 sungai tersebut kurang diperhatikan," tuturnya.

Lanjutnya menerangkan, 68 persen sungai yang berada di Sumatera itu tercemar, lalu menyusul Kalimantan, Sulawesi, Papua, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Tujuh sungai paling tercemar di Indonesia salah satunya Sungai Siak.

"Kondisi empat sungai yang ada di Riau ini tercemar. DAS Kampar berdasar data Menteri Kehutanan pada tahun 2009 itu sudah menjadi prioritas DAS Nasional karena di sana satu lokus penting yaitu PLTA. DAS Siak pada tahun 2016 masuk dalam DAS kritis berat dari 108 DAS kritis di Indonesia," katanya.

"Sumber pencemaran limbah di sungai yang ada di Indonesia itu biasanya hanya limbah domestik, limbah MCK, limbah peternakan, industri dan perikanan," pungkasnya.

Sementara itu dari pihak LBH Pekanbaru, Andi Wijaya mengatakan, LBH memiliki beberapa temuan, diantaranya dari 17 nelayan yang disurvei pernah sering melihat ikan mati secara besar di kawasan Sungai Siak. Tetapi peristiwa matinya ikan bisa mengindikasikan bahwa Sungai Siak sudah tercemar oleh zat-zat beracun.

Kemudian, secara kasat mata Sungai Siak juga mengalami jauh perubahan. Bahkan beberapakali warga juga melaporkan adanya tongkang batu bara yang sengaja ditutupi sehingga ketika datang ke sana debu-debu batu bara bertebaran. "Dengan dibukanya posko pengaduan, nantinya bisa pengaduan pencemaran perusahaan maupun terhadap masyarakat," paparnya.

Hal itu pulalah yang disesalkan kepada pemerintah daerah. Dimana di dalam RPJMD 2014-2019 bahwa Sungai Siak memang sudah tercemar berat, tapi tidak ada program khusus terkait pemulihan. 

Ketika Sungai Siak tercemar, sisi kesehatan masyarakat pun terganggu khususnya nelayan. "Dimana sungai hitam yang ada minyaknya saat terpegang itu gatal. Ini baru nelayan di wilayah Okura. Karena di daerah Okura merupakan wilayah yang terhimpit oleh PLTU, PKS, PLTD," pungkasnya.