Dinsos Pekanbaru Jangkau 10-15 ODGJ per Bulan, Kerap Ditolak Keluarga Usai Dirawat

15 Oktober 2026
Kepala Dinsos Pekanbaru Junaedy. Foto: Surya/Riau1.

Kepala Dinsos Pekanbaru Junaedy. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pekanbaru menjangkau sekitar 10 hingga 15 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) setiap bulan. Dalam penanganannya, petugas kerap menghadapi kendala karena sebagian keluarga tidak bersedia menerima kembali anggota keluarganya setelah menjalani perawatan.

Kepala Dinsos Pekanbaru Junaedy, Kamis (15/10/2026), mengatakan, tidak sedikit ODGJ yang ditemukan telantar di jalanan akibat tidak mendapatkan pendampingan dari keluarga. Bahkan, ada yang diduga sengaja dibiarkan di jalan oleh keluarganya.

"Kami berupaya menelusuri identitas dan keberadaan keluarga ODGJ yang dijangkau. Supaya, ODGJ ini bisa kami kembalikan kepada pihak keluarga," ujarnya.

Namun, dalam sejumlah kasus, ODGJ ini kembali dilepas keluarganya. Sehingga petugas Dinsos harus melakukan penanganan berulang.

"Kadang sengaja dilepas di jalan-jalan. Kami telusuri dan kami kembalikan ke keluarganya. Kadang oleh keluarganya dilepas lagi. Di situlah kami bersama pihak kepolisian untuk menangani," ucap Junaedy.

Dalam sebulan terakhir, jumlah ODGJ yang dijangkau Dinsos berkisar 10 hingga 15 orang. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tidak adanya keluarga yang merawat hingga penolakan keluarga terhadap anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa.

"Bagi ODGJ yang membutuhkan penanganan medis, kami memfasilitasi perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan. Namun, persoalan tidak selalu selesai setelah pasien menjalani pengobatan," ucap Junaedy.

Sebagian keluarga justru enggan menerima kembali anggota keluarganya setelah selesai menjalani perawatan. Padahal, ODGJ tertentu membutuhkan pengobatan rutin dan konsumsi obat setiap hari untuk menjaga kondisi kesehatannya.

"ODGJ ini butuh obat yang harus diminum setiap hari. Setelah obat itu habis, keluarganya tidak mau mengurus pengambilan obat ke puskesmas terdekat. Ini yang susah dalam kasus ODGJ ini," ungkap Junaedy.

Keberlanjutan pengobatan dan dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam penanganan ODGJ. Tanpa pendampingan yang memadai, ODGJ berisiko kembali mengalami masalah dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan telantar di ruang publik.

"Karena itu, kami dengan kepolisian serta Dinas Kesehatan untuk menangani ODGJ yang ditemukan di jalanan. Kami juga berupaya menelusuri keluarga dan memastikan mereka memperoleh penanganan sesuai kebutuhan," sebut Junaedy.

Diharapkan, keluarga dapat berperan aktif dalam mendampingi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa, termasuk memastikan pengobatan tetap berjalan setelah pasien kembali dari rumah sakit. Penanganan ODGJ tidak cukup hanya dengan menjangkau dan membawa mereka untuk mendapatkan perawatan 

"Dukungan keluarga serta kesinambungan layanan kesehatan juga diperlukan. Agar, mereka tidak kembali telantar," pungkas Junaedy.