Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Konflik di kawasan Timur Tengah membuat harga plastik semakin melejit. Kondisi itu pun membuat pedagang kaki lima (PKL) yang menggunakan plastik sebagai salah satu komponen dagangannya menjerit.
Hal tersebut seperti yang dialami pedagang es di Pasar Pagi Kota Cirebon. Naiknya harga plastik membuat keuntungan mereka menjadi terkikis. Pasalnya, kenaikan harga plastik tidak diiringi dengan naiknya harga jual dagangan mereka.
“Pembeli pada protes, tidak mau harga (minuman) es naik,” ujar pedagang es bernama Aeni, Sabtu (4/4/2026) yang dimuat Antara.
Ia mengatakan, sejak harga gelas plastik atau cup mengalami kenaikan, ia sempat menaikkan harga jual minuman esnya menjadi Rp 6.000 per cup, atau naik Rp 1.000. Namun, karena diprotes pembeli, ia terpaksa kembali pada harga lama, yakni Rp 5.000 per cup. “Ya mau bagaimana lagi. Apalagi dagangan juga sepi,” tuturnya.
Aeni mengungkapkan, harga jual dagangan yang tidak ikut naik akhirnya membuat keuntungannya terkikis. Pasalnya, modal yang harus dikeluarkannya semakin besar.
Sementara itu, seorang pembeli es, Husen, mengaku kaget harga es yang biasa dibelinya tiba-tiba mengalami kenaikan. Ia pun keberatan dan menolak harga yang lebih mahal. “Ya kan kita sebagai pembeli tahunya harga es Rp 5.000 per cup. Kalau harganya naik, ya keberatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan pemerintah tengah mencari sumber alternatif untuk bahan baku plastik guna mengantisipasi gangguan impor dari negara-negara di Timur Tengah.
Menjawab pertanyaan wartawan usai konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Rabu (1/4/2026) lalu, Mendag Budi Santoso menyampaikan kondisi di Timur Tengah mengakibatkan dampak terhadap aktivitas impor nafta yang digunakan untuk memproduksi plastik.
"Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang kita impor dari Timur Tengah. Apa yang kemudian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti, atau alternatif dari negara lain," kata Mendag Budi.
Mendag menjelaskan, nafta merupakan senyawa hidrokarbon turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama untuk memproduksi resin plastik, karet, dan pelarut.
Dia menyebutkan, sudah dilakukan pendekatan dengan beberapa negara, termasuk India, serta sejumlah pihak lain di Afrika dan Amerika.
"Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain. Jadi kita harap proses ini bisa berjalan dengan baik sehingga harga bisa kembali normal," tambahnya.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga telah melakukan pembicaraan dengan asosiasi dan pelaku industri untuk mencari alternatif lain selain dari Timur Tengah.
Kemendag juga terus berkomunikasi dengan perwakilan Pemerintah Indonesia di luar negeri untuk membantu mencari pemasok baru guna memastikan pasokan bahan baku plastik tetap lancar.
Dia menyoroti bahwa kondisi serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara lain, termasuk Singapura, China, Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan.
"Tapi untuk bahan baku, terus kita upayakan sehingga produksi di dalam negeri tetap kembali normal dan pasokan plastik tetap terjaga dengan baik," jelasnya.
Sebelumnya, sejumlah negara melaporkan telah mengamankan bahan baku plastik nafta, termasuk Korea Selatan yang melarang ekspor nafta mulai berlaku pada Jumat (27/3/2026) sebagai bagian dari upaya untuk mengamankan pasokan dalam negeri di tengah kekhawatiran akan potensi gangguan impor.*