Berikut Tanda Kelelahan Mental yang Sering Diabaikan

17 Juni 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Kelelahan mental menjadi masalah yang semakin banyak dialami masyarakat di tengah tuntutan hidup modern. Meski sudah tidur cukup, tidak sedikit orang yang tetap merasa lelah, sulit berkonsentrasi, hingga kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari

Menurut praktisi kesehatan mental Prakriti Poddarv, kondisi tersebut sering kali disebabkan oleh sistem saraf yang tidak mendapatkan pemulihan yang cukup. la menyebut fenomena ini sebagai recovery crisis atau krisis pemulihan.

"Bahkan dengan tidur lebih awal, itu tidak akan menyelesaikan semuanya jika pikiran dan sistem saraf tidak benar-benar pulih," kata dia seperti dilansir Republika dari laman Hindustan Times, Rabu (17/6/2026).

la menjelaskan bahwa tubuh dapat memberikan sinyal ketika seseorang mengalami kelelahan mental. Setidaknya ada lima tanda utama yang sering kali diabaikan, sebagai berikut:

1. Merasa lelah meski tidur cukup

Tanda paling umum kelelahan mental adalah tetap merasa lelah meski sudah tidur semalaman. Hal ini terjadi karena pikiran tidak otomatis berhenti bekerja ketika tubuh beristirahat. la menjelaskan adanya efek "last in, first out" yaitu kecenderungan pikiran untuk terus memproses hal terakhir yang dipikirkan sebelum tidur.

Akibatnya, seseorang dapat terus memikirkan masalah atau kekhawatiran sepanjang malam sehingga kualitas pemulihan menjadi tidak optimal. Prakriti menekankan bahwa pemulihan yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang mampu melepaskan tekanan dan lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar mendukung kesejahteraan dirinya.

2. Hal kecil terasa sangat membebani

Saat pikiran berada dalam kondisi terlalu penuh, tugas-tugas sederhana yang biasanya mudah dilakukan dapat terasa jauh lebih berat. Seseorang mungkin menjadi lebih mudah marah, tersinggung, atau tidak sabar dibandingkan biasanya. Menurut Prakriti, kondisi ini bukan tanda kelemahan atau kemalasan, melainkan sinyal bahwa kapasitas emosional sudah terkuras akibat tekanan mental yang terus menumpuk.

3. Sulit fokus bahkan pada hal sederhana

Kelelahan kognitif atau brain fog menjadi tanda lain yang sering muncul. Gejalanya berupa sulit konsentrasi, mudah lupa, hingga merasa pikiran kusut.

Prakriti menjelaskan bahwa otak manusia saat ini mengalami stimulasi berlebihan. Kebiasaan multitasking dan paparan informasi digital tanpa henti membuat otak jarang mendapatkan kesempatan untuk tenang. Padahal, sama seperti otot yang membutuhkan waktu pemulihan setelah bekerja keras, otak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.

4. Stres muncul dalam bentuk fisik

Stres tidak hanya terjadi di pikiran, tetapi juga muncul secara fisik. Gejalanya bisa berupa sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pencernaan, rahang mengatup atau menegang, napas lebih pendek, hingga rasa lelah berkepanjangan. Jika dibiarkan, sistem saraf dapat terus berada dalam kondisi siaga tinggi (high alert), yang berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

5. Kehilangan rasa bahagia

Tanda terakhir adalah hilangnya koneksi terhadap rasa bahagia. Seseorang tetap menjalani aktivitas seperti biasa, namun tidak lagi merasa hadir secara emosional.

Kondisi ini disebut sebagai emotional numbness, yaitu keadaan ketika seseorang kehilangan rasa antusias, kreativitas, hingga kedekatan dengan diri sendiri maupun lingkungan. Seperti diberitakan sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah melaporkan bahwa lebih dari 1 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai kondisi paling umum. Temuan ini dipublikasikan dalam dua laporan terbaru yakni World Mental Health Today dan Mental Health Atlas 2024.

Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut krisis kesehatan mental sebagai salah satu tantangan paling mendesak saat ini. Pasalnya gangguan kesehatan mental menjadi penyebab kedua terbesar disabilitas jangka panjang secara global, yang bisa berdampak pada kualitas hidup dan ekonomi masyarakat lintas negara.*