Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Konsumsi susu mentah atau raw milk berisiko membahayakan kesehatan, terutama bagi bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), susu yang tidak melalui proses pasteurisasi dapat mengandung bakteri, virus, dan parasit penyebab penyakit serius hingga kematian.
AAP memperbarui pernyataan kebijakannya mengenai susu mentah dan berbagai produk olahannya, termasuk keju dan yoghurt. Pernyataan tersebut dijadwalkan diterbitkan dalam jurnal Pediatrics edisi November 2026.
Dalam pembaruan tersebut, AAP menyoroti peningkatan wabah penyakit yang berkaitan dengan konsumsi susu mentah selama 20 tahun terakhir. Anak-anak bahkan mencakup hampir setengah dari seluruh orang yang jatuh sakit akibat konsumsi produk tersebut.
Susu mentah dapat mengandung sejumlah mikroorganisme berbahaya, seperti Salmonella, Listeria, Campylobacter, serta jenis bakteri Escherichia coli (E coli) tertentu. Infeksi bakteri E coli tertentu dapat menyebabkan sindrom uremik hemolitik, komplikasi serius yang lebih sering terjadi pada anak kecil. Kondisi ini dapat mengakibatkan gagal ginjal hingga kematian.
"Bayi, anak kecil, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah menjadi kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi serius akibat konsumsi susu mentah," kata AAP dilansir Republika dari laman US News, Jumat (9/10/2026).
Pasteurisasi merupakan proses pemanasan susu hingga mencapai suhu tertentu selama jangka waktu minimum untuk membunuh bakteri, virus, dan parasit penyebab penyakit. Proses tersebut membantu mengurangi risiko penyakit bawaan makanan. Sebelum pasteurisasi diterakan secara luas, susu merupakan salah satu sumber utama keracunan makanan dan kematian bayi.
Risiko konsumsi susu mentah juga menjadi perhatian khusus bagi ibu hamil. Infeksi yang berkaitan dengan produk susu mentah, termasuk listeriosis dan toksoplasmosis, dapat menular kepada bayi selama kehamilan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memperingatkan bahwa infeksi Listeria dapat menyebabkan keguguran, penyakit serius pada bayi baru lahir, hingga kematian. Infeksi tersebut bahkan dapat membahayakan bayi meskipun ibu tidak menunjukkan gejala.
Oleh karena itu, ibu hamil yang mungkin telah mengonsumsi susu mentah atau produk olahannya dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Selain bakteri dan parasit, AAP turut menyoroti risiko virus flu burung H5N1 yang menyebar pada sapi perah di Amerika Serikat pada 2024. Saat wabah tersebut terjadi, virus H5N1 ditemukan dalam sampel susu mentah. Sejumlah pekerja peternakan juga dilaporkan sakit setelah terpapar virus saat bekerja.
Sejauh ini, penyakit akibat meminum susu yang terkontaminasi virus tersebut baru ditemukan pada hewan. Meski demikian, AAP tetap menganggap kemungkinan penularan virus dari sapi kepada manusia melalui susu mentah sebagai risiko yang perlu diwaspadai.
Salah satu penulis pernyataan kebijakan AAP, dr Anne Sardi, dan anggota Komite Penyakit Menular AAP, Dr Adam Ratner, menguraikan langkah pencegahan yang perlu dilakukan dokter anak. Mereka mendorong dokter untuk menanyakan konsumsi susu mentah dan produk olahannya sebagai bagian dari pemeriksaan rutin mengenai pola makan keluarga.
"Dokter juga dianjurkan mengarahkan keluarga agar memilih produk yang telah dipasteurisasi, termasuk susu kambing dan susu domba," kata dr Anne dan dr Adam.
Selain memberikan edukasi kepada keluarga, AAP menyerukan penerapan undang-undang di tingkat negara bagian yang melarang penjualan produk susu mentah. FDA mengimbau juga masyarakat untuk memeriksa label sebelum membeli susu dan produk olahannya.
Konsumen perlu memastikan produk mencantumkan keterangan pasteurized atau telah dipasteurisasi. Jika keterangan tersebut tidak tercantum, produk itu mungkin mengandung susu mentah.
FDA juga menyarankan siapa pun yang jatuh sakit setelah mengonsumsi produk susu mentah agar segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan. Ibu hamil yang mungkin telah mengonsumsi susu mentah juga dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, meskipun belum mengalami gejala.*