Alasan Flu Nggak Kunjung Sembuh Menurut Dokter

7 Oktober 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Keluhan batuk, pilek, dan demam yang bertahan lebih lama dari biasanya sering dirasakan masyarakat belakangan ini. Banyak yang menganggap flu yang menyerang kali ini lebih membandel dan membutuhkan waktu hingga beberapa pekan untuk benar-benar pulih.

Dokter klinik IPB University, dr Wahyu Rachwaldy, mengatakan kondisi ini bukan sekadar perasaan subjektif. Menurut dia, durasi dan beratnya gejala infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dapat dipengaruhi jenis virus, kondisi lingkungan, dan respons imun tubuh.

“Laporan dari berbagai lembaga kesehatan global dan nasional, termasuk CDC serta Kementerian Kesehatan RI, mengonfirmasi adanya peningkatan kasus ISPA dengan gejala yang bertahan lebih lama,” kata dr Wahyu dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (7/10/2026) yang dimuat Republika.co.id.

Flu yang bertahan lebih lama juga bisa disebabkan oleh beredarnya berbagai jenis virus respiratorik secara bersamaan. Mulai dari influenza A dan B, respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus, hingga SARS-CoV-2.

Kondisi tersebut memungkinkan seseorang mengalami infeksi secara berdekatan. Akibatnya, ketika gejala dari infeksi pertama mulai mereda, tubuh bisa kembali menghadapi infleksi lain sehingga masa pemulihan jadi lebih panjang.

"Selain itu, terdapat pula fenomena post-pandemic immunity debt yaitu ketika perubahan pola paparan patogen selama beberapa tahun terakhir membuat sistem imun tubuh harus kembali menyesuaikan diri saat terpapar banyak virus secara beruntun,” kata dr Wahyu. 

Berapa lama flu normalnya sembuh? Menurut dia, infeksi virus saluran pernapasan atas tanpa komplikasi umumnya memiliki pola perjalanan penyakit yang terukur. Pada masa akut yaitu hari pertama hingga ketiga, gejala mencapai puncaknya berupa demam, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, pegal-pegal, dan lemas. 

Memasuki hari keempat hingga ketujuh, demam mulai mereda dan energi tubuh berangsur pulih, meski batuk dan sekresi hidung masih dapat bertahan. "Pada akhirnya, orang dengan sistem imun sehat umumnya mengalami penyembuhan total dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, meskipun sisa gejala ringan seperti batuk kering wajar bertahan hingga dua pekan,” kata dia.

Kendati demikian, kata dr Wahyu, flu atau ISPA bisa tergolong membandel atau tidak normal apabila gejala utama seperti demam, sesak, atau batuk berdahak kental berlangsung lebih dari 10 hingga 14 hari tanpa adanya perbaikan. Masyarakat juga perlu mewaspadai double sickening, yakni kondisi ketika sempat membaik selama satu hingga dua hari, kemudian kembali memburuk secara drastis dengan demam tinggi atau sesak nafas.

Gejala tertentu juga bisa menjadi petunjuk adanya komplikasi. Nyeri hebat pada area wajah atau dahi dapat mengindikasikan sinusitis. Lalu nyeri telinga tajam hingga penurunan pendengaran, menjadi pertanda infeksi yang perlu perhatian khusus. 

Menurut dr Wahyu, flu yang berlangsung lama tidak selalu disebabkan infeksi virus aktif. Kerusakan mukosa dapat memudahkan bakteri berkembang dan memicu infeksi sekunder seperti sinusitis bakterialis akut, bronkitis, atau pneumonia. 

Peradangan persisten juga dapat menyebabkan batuk pascainfeksi. Kondisi tersebut membuat saluran napas menjadi sangat sensitif terhadap udara dingin, asap, maupun debu hingga memicu batuk kering selama tiga hingga delapan pekan.

“Faktor lain yang memperlambat pemulihan meliputi infeksi berulang akibat terinfeksi jenis virus berbeda tepat saat akan sembuh, serta tercetusnya reaksi alergi atau asma yang sebelumnya tersembunyi,” ujar dr Wahyu.

Dia mengatakan perubahan cuaca ekstrem dan polusi udara dapat memperberat gejala serta memperlama penyembuhan. Paparan PM2.5, NO2, dan SO2 dapat merusak silia serta membran epitel, sehingga mengganggu mekanisme alami tubuh dalam mengeluarkan dahak dan patogen. 

“Polusi yang terus-menerus juga memicu peradangan kronis yang memperparah pembengkakan mukosa hidung dan tenggorokan. Ditambah lagi, kondisi udara dingin dan kering juga dapat menurunkan produksi mukus pelindung serta memperlambat respons imun lokal di area hidung,” kata dr Wahyu.

Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat segera berkonsultasi ke tenaga medis jika flu tak kunjung membaik. Pertolongan medis sangat diperlukan apabila pasien mengalami sesak napas, napas terasa berat dan berbunyi, timbul nyeri dada hebat atau rasa tertekan saat bernapas, serta demam tinggi yang tidak kunjung turun lebih dari tiga hingga lima hari berturut-turut. Tanda bahaya lainnya meliputi dahak berwarna hijau pekat, cokelat, atau bercampur darah, hingga terjadinya penurunan kesadaran, pusing berat, dan dehidrasi.*